REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya melakukan pengetatan kegiatan masyarakat sejak daerah itu ditetapkan sebagai zona merah (risiko tinggi) penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan menutup akses masuknya kendaraan ke pusat pertokoan di Jalan KH Z Mustofa.
Kendati demikian, berdasarkan pantauan Republika, sejak akses ke Jalan KH Z Mustofa ditutup, tetap terjadi kerumunan orang yang hendak berbelanja di kawasan itu. Orang-orang tetap datang dengan berjalan kaki untuk berbelanja.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Tasikmalaya, Muhammad Yusuf mengaku, kerumunan massa di Kota Tasikmalaya ini sulit untuk dihindari. "Soalnya, Kota Tasikmalaya menjadi penyangga. Saat jelang Lebaran seperti saat ini, banyak mereka dari luar kota masuk ke Tasik dengan maksud berbelanja," kata dia, Senin (10/5).
Karena itu, ia mengingatkan para pelaku usaha untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes). Masyarakat yang berbelanja juga diminta hal yang sama.
"Status kita masuk zona merah. Saya diinstruksikan untuk menerapkan prokes lebih ketat," ujar Yusuf.
Ia menambahkan, Pemkot Tasikmalaya juga tidak mengizinkan kegiatan shalat id di Masjid Agung dilaksanakan. Itu merupakan imbauan dari Gubernur Jawa Barat, guna mencegah kerumunan. Sebab, shalat id di Masjid Agung akan mengundang kerumunan massa.
Namun, jika sebelum Lebaran status Kota Tasikmalaya kembali ke zona oranye (risiko sedang), Yusuf akan memberi izin kegiatan shalat id di Masjid Agung Tasikmalaya. Tentu dengan prokes.
"Kalau perlu, saya akan minta bantuan Tni/polri untuk jaga saf-saf di Masjid Agung. Karena jamaah pasti akan meluber sampai ke jalan," kata dia.