Jumat 02 Jul 2021 15:49 WIB

Taman Satwa Cikembulan Ajak Masyarakat Berdonasi untuk Satwa

Kebutuhan satwa selama ini mengandalkan pemasukan dari tiket pengunjung.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Muhammad Fakhruddin
Orang utan di Taman Satwa Cikembulan, Kabupaten Garut.
Foto: dok. Taman Satwa Cikembulan
Orang utan di Taman Satwa Cikembulan, Kabupaten Garut.

REPUBLIKA.CO.ID,GARUT -- Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang akan diberlakukan di Kabupaten Garut akan berdampak pada operasional Taman Satwa Cikembulan. Selama PPKM darurat, kebun binatang itu tak akan beroperasi. 

Manajer Operasional Taman Satwa Cikembulan, Rudi Arifin mengatakan, ditutupnya operasional kebun binatang itu akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan pakan satwa. Sebab, pemenuhan kebutuhan satwa selama ini mengandalkan pemasukan dari tiket pengunjung.

"Sejauh ini, kondisi satwa saat ini masih baik-baik saja. Pemenuhan kebutuhan pakan selama PPKM kita masih bisa manfaatkan tabungan yang ada," kata dia saat dihubungi Republika, Jumat (2/7).

Menurut dia, tabungan manajemen yang ada setidaknya masih bisa memenuhi kebutuhan pakan satwa hingga akhir Juli. Namun, apabila PPKM diperpanjang, ia mengaku belum memiliki cara untuk memenuhi kebutuhan pakan ke depannya. Apalagi, tabungan manajemen bukan hanya diperuntukkan untuk pakan satwa, melainkan juga untuk gaji karyawan. 

 

Karena itu, Rudy mengajak masyarakat yang peduli satwa bisa berdonasi ke Taman Satwa Cikembulan untuk memenuhi kebutuhan pakan. Sebab, kebutuhan pakan satwa tetap sama setiap harinya, meski Taman Satwa Cikembulan ditutup. 

"Kita membuka donasi kepada masyarakat yang peduli satwa. Karena mereka ini kan statusnya juga satwa milik negara," kata dia.

Rudi menjelaskan, masyarakat yang hendak menyalurkan donasi bisa langsung datang ke Taman Satwa Cikembulan, yang berlokasi di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Pihaknya juga akan menyebarluaskan ajakan donasi untuk satwa melalui media sosial.

Ia menambahkan, pihaknya juga akan melakukan terobosan melakukan berkerja sama dengan salah satu toko swalayan di Kabupaten Garut. Sebab, biasanya di toko swalayan itu terdapat retur buah-buahan dan sayuran.

"Itu bukan berarti sampah dan akan kita seleksi. Soalnya, untuk satwa jenis tertentu masih bisa dikonsumsi. Misalnya landak, dia makan apapun. Itu akan membantu," kata dia.

Rudi menjelaskan, tingkat kunjungan ke Taman Satwa Cikembulan selama 2021 masih relatif sepi. Sebab, masyarakat umumnya masih takut keluar rumah.

Menurut dia, kunjungan ke Taman Satwa Cikembulan selama 2021 mengalami penurunan sekitar 30 persen dibanding ketika kondisi normal. Peningkatan kunjungan ke kebun binatang itu dinilai terjadi pada momen libur Lebaran. Namun, sejak Senin (28/6) Taman Satwa Cikembulan ditutup lantaran masuk dalam kecamatan zona merah (risiko tinggi) penyebaran Covid-19.

Meski begitu, Rudi menjelaskan, sejauh ini satwa di Taman Satwa Cikembulan masih dalam kondisi baik. "Sekarang jumlah satwa ada 445 ekor. Selama pandemi pasti ada kematian dan kelahiran, itu dinamika. Namun tak ada satwa yang mati kelaparan," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement