Kamis 23 Sep 2021 17:32 WIB

KCIC Adopsi Teknologi China Railway untuk Sistem Persinyalan

Teknologi ini stabil, dari sisi proteksi terhadap interferensi frekuensi.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Muhammad Fakhruddin
Suasana proyek konstruksi Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Lembah Teratai, Gadobangkong, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (8/8). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan uji coba Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) ditargetkan pada Oktober 2022, sementara pada Januari 2022 seluruh konstruksi beton proyek tersebut sudah tersambung sepenuhnya. Foto: Republika/Abdan Syakura
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Suasana proyek konstruksi Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Lembah Teratai, Gadobangkong, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (8/8). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan uji coba Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) ditargetkan pada Oktober 2022, sementara pada Januari 2022 seluruh konstruksi beton proyek tersebut sudah tersambung sepenuhnya. Foto: Republika/Abdan Syakura

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG -- PT KCIC terus melakukan percepatan progres konstruksi dan persiapan Operation Maintenance Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Termasuk di antaranya menyiapkan sistem persinyalan yang menjadi salah satu kunci safety operation.

Menurut Manager Technical Design PT KCIC, Indra Yulianto, untuk persinyalan Kereta Api Cepat akan menggunakan Teknologi GSM-R sebagai teknologi transmisi data (train control data) mengadopsi teknologi yang dipakai di China Railway.

China Railway saat ini menggunakan sistem persinyalan CTCS-2 dan CTCS-3/GSM-R untuk mendukung pengoperasian jalur Kereta Api Cepat sepanjang 37.900 kilometer. CTCS-2 digunakan untuk mendukung pengoperasian Kereta Api Cepat dengan kecepatan maksimum 300 km/jam dan CTCS-3/GSM-R dengan kecepatan maksimum 350 km/jam.

Indra mengatakan, teknologi ini ini dipilih karena GSM-R sudah proven dari sisi keselamatan dan dioperasikan banyak operator Kereta Api Cepat di dunia. Di antaranya, negara-negara Eropa, China, Arab Saudi, dan Maroko. Teknologi ini juga termasuk teknologi yang stabil dan sudah terstandardisasi oleh UIC atau International Union of Railways (Uni Kereta Api Internasional). 

 

Artinya, kata dia, teknologi CTCS-3/GSM-R masih akan diandalkan oleh sebagian besar operator Kereta Api Cepat di dunia dalam masa sekarang dan yang akan datang.

"Teknologi GSM-R ini adalah yang paling mapan dan sudah terbukti dari berbagai sisi untuk digunakan pada Kereta Api Cepat. Terutama dari sisi keamanan. Teknologi ini stabil, dari sisi proteksi terhadap interferensi frekuensi," ujar Indra dalam keterangan resminya, Kamis (23/9).

Sedangkan teknologi lainnya, kata dia, berbasiskan LTE, sampai saat ini masih dalam tahap pengembangan. “China Railway baru melakukan tahapan pengembangan teknologi LTE untuk mendukung pengoperasian Kereta Api Cepat, untuk sampai dengan 

tahapan implementasi masih membutuhkan waktu yang cukup lama serta biaya yang sangat besar untuk proses migrasi dari GSM-R ke LTE-R atau 5G-R," paparnya.

Indra menjelaskan, selain penggunaan frekuensi GSM-R, Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung dilengkapi dengan backup system dalam teknologi kontrol sistem perkeretaapian. Backup system ini, disiapkan untuk mengantisipasi apabila terjadi gangguan persinyalan pada frekuensi GSM-R. 

Pada saat persinyalan “turun” ke backup system, kata dia, konsekuensinya adalah kecepatan jelajah maksimum kereta akan berkurang dari 350 km/jam menjadi 300 km/jam. Sehingga, dari aspek keamanan pada perjalanan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung sudah diperhitungkan dengan matang, termasuk jika terdapat gangguan sinyal GSM-R di perjalanan. 

"Jadi, kalau terjadi gangguan GSM-R secara tiba-tiba, hal ini tidak serta merta mengganggu operasional Kereta Api Cepat. Teknologi kontrol atau sistem persinyalan kita sudah diatur untuk mengantisipasi hal-hal semacam itu. Teknologi kontrol sistem yang kita terapkan sangat memungkinkan Kereta Api Cepat untuk bisa tetap beroperasi dengan aman," papar Indra seraya mengatakan, nantinya sistem yang dibangun harus melalui proses pengujian (test and commissioning) dan sertifikasi yang ketat dari pihak yang berwenang.

Sementara menurut GM Corporate Secretary Mirza Soraya, saat ini PT KCIC sedang membahas kerja sama penggunaan frekuensi Telkomsel untuk mendukung persinyalan dan dimediasi oleh Kemenkominfo. Kedua belah pihak, sepakat menjamin aspek safety pengoperasian Kereta Api Cepat dan meminimalisasi potensi gangguan terhadap pelayanan Telkomsel kepada pelanggan.

Dalam pembahasan, kata dia, PT KCIC bersama dengan Telkomsel sedang merumuskan batasan-batasan yang aman sehingga penggunaan frekuensi GSM-R di pita 900 MHz untuk Kereta Api Cepat tidak menganggu jaringan GSM publik yang digunakan masyarakat umum saat ini dan sebaliknya frekuensi seluler tidak menganggu safety pengoperasian Kereta Api Cepat. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement