Selasa 05 Oct 2021 16:49 WIB

5.000 Alat Tes Antigen Disiapkan untuk Siswa dan Guru

Total sekolah yang dilakukan tes yaitu 10 persen dari 2.000 sekolah di Kota Bandung.

Rep: M Fauzi Ridwan/ Red: Bilal Ramadhan
Seorang anak menjalani tes usap antigen di UPT Puskesmas Jajaway, Antapani, Kota Bandung, Kamis (22/7). Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (CISDI) menjalankan program PUSPA (Puskesmas Terpadu dan Juara) yang merupakan program penguatan puskesmas dalam penanganan Covid-19. Program PUSPA tersebut bertujuan untuk memperkuat upaya deteksi, lacak kasus, edukasi publik, vaksinasi Covid-19 serta pemenuhan layanan kesehatan esensial di 100 puskesmas di 12 kabupaten/kota di Jawa Barat. Foto: Republika/Abdan Syakura
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Seorang anak menjalani tes usap antigen di UPT Puskesmas Jajaway, Antapani, Kota Bandung, Kamis (22/7). Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (CISDI) menjalankan program PUSPA (Puskesmas Terpadu dan Juara) yang merupakan program penguatan puskesmas dalam penanganan Covid-19. Program PUSPA tersebut bertujuan untuk memperkuat upaya deteksi, lacak kasus, edukasi publik, vaksinasi Covid-19 serta pemenuhan layanan kesehatan esensial di 100 puskesmas di 12 kabupaten/kota di Jawa Barat. Foto: Republika/Abdan Syakura

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menyiapkan 5.000 alat rapid tes antigen untuk uji usap kepada siswa dan guru yang melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Pelaksanaan uji usap secara acak akan direncanakan mulai berlangsung pekan depan.

"Kita kan rapid ya, kan kita sudah siapin sih sekarang saja stok untuk putaran pertama kita siapin 5.000 ya mudah-mudahan cukup," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr Ahyani Raksanagara, Selasa (5/10).

Ia menuturkan, Kota Bandung menjadi salah satu daerah yang ditunjuk pemerintah pusat untuk menyelenggarakan uji usap secara acak. Total sekolah yang dilakukan tes yaitu 10 persen dari 2.000 sekolah di Kota Bandung yang menyelenggarakan pembelajaran tatap muka.

"Hitungannya adalah 10 persen dari sekolah yang PTM jadi kemudian dari satu sekolah itu 30 sampel itu baik siswa didik maupun tenaga pendidik," katanya.

 

Ahyani mengatakan apabila temuan kasus Covid-19 terhadap siswa dan guru berada di angka 1 persen maka tindaklanjutnya siswa yang terpapar diisolasi. Sedangkan apabila persentase kasus aktif berada di angka 1 sampai 5 persen maka dilakukan trasing pada kelas tersebut.

Selain itu, apabila persentase kasus Covid-19 berada di atas 5 persen maka sekolah tersebut harus ditutup. Ia menuturkan, pihaknya baru mendapatkan jadwal uji usap secara acak hari ini dari Dinas Pendidikan Kota Bandung.

"Jadikan yang memilih sekolahnya dari Disdik, sekolah dia random harus mewakili seluruh kota Bandung," katanya.

Ahyani menambahkan, kasus Covid-19 di Kota Bandung saat ini landai sehingga tempat karantina isolasi terpadu di 3 hotel tidak lagi digunakan. Penanganan terhadap warga yang terpapar Covid-19 saat ini ditangani oleh unsur kewilayahan.

"30 September tidak memperpanjang isolasi terpadu karena di kewilayahan sudah ada. Malah ada kecamatan nol kasus sekarang tertangani pada isolasi di rumah," katanya. Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement