Kamis 18 Nov 2021 08:33 WIB

Relawan PMI Kota Bogor Bersiaga Hadapi Dampak La Nina

Kota Bogor pada 2021 menduduki daerah nomor tiga terbanyak bencana di Jabar.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Erik Purnama Putra
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bogor, Edgar Suratman .
Foto: Dok Pemkot Bogor
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bogor, Edgar Suratman .

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Potensi cuaca ekstrem karena dampak La Nina menghantui sejumlah wilayah, termasuk Kota Bogor. Badai La Nina diprediksi menerpa Kota Hujan tersebut hingga akhir 2021. Oleh karena itu, sekitar 150 relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bogor disiagakan dalam menghadapi bencana La Nina.

Ketua PMI Kota Bogor Edgar Suratman mengatakan, dari 27 kota dan kabupaten se-Jawa Barat (Jabar), Kota Bogor masuk peringkat ketiga paling banyak bencana. Hal itu lantaran kontur tanah Kota Bogor sebagian besar merupakan tebingan, dan banyak dilalui aliran sungai. Sehingga, potensi resistensi terjadinya bencana menjadi cukup tinggi.

Baca Juga

Peringkat pertama jumlah bencana pada 2021 ditempati Kabupaten Bogor dengan 900 kejadian, kedua Kabupaten Sukabumi sebanyak 200 kejadian, dan Kota Bogor dengan 152 insiden bencana. Total peristiwa bencana di Jabar hingga November sebanyak 1.724 kali.

"Salah satu yang harus diwaspadai adalah potensi angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang di Jalan Ahmad Yani, saat ini kan sudah dipotong pohon-pohon yang besar. Itu salah satu upaya pemerintah, dan kita juga harus menyikapi hal itu," kata Edgar di Kota Bogor, Jabar, Rabu (17/11).

 

Dia menyebutkan, PMI menjadi salah satu komponen yang harus sigap dan tanggap terhadap semua bencana. Tak hanya saat terjadi bencana, sambunga dia, melainkan juga sebelum, saat, dan pascakejadian bencana.

Saat ini, kata Edgar, PMI Pusat dan PMI Jabar bergerak bersama dengan melibatkan relawan bencana, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor. Dalam persiapannya, alat komunikasi untuk memaksimalkan koordinasi dalam kebencanaan juga difungsikan.

"Jika ada kerusakan diperbaiki untuk mempercepat adanya tindakan. Untuk itu dicek alat dan personalnya. Baik itu di posko yang di markas PMI maupun di Sibad. PMI Kecamatan harus melakukan monitoring, pada saat ada kejadian untuk bergerak bersama kurangi dampak La Nina,” jelas Edgar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah di Indonesia. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, masyarakat untuk mewaspadai dampak fenomena La Nina menjelang akhir 2021.

Menurut hasil kajian BMKG, pada 2020 La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan dari November hingga Januari. BMKG memprakirakan akhir tahun ini, La Nina bisa menyebabkan peningkatan curah hujan bulanan sekitar 20 sampai 70 persen di atas normal. Itu terjadi di wilayah Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement