Senin 25 Jul 2022 18:28 WIB

Wagub Jabar Minta Maaf Terkait Pernyataan Kasus Anak Tasikmalaya Dibully

Uu bahkan mengklaim hal tersebut adalah sebuah candaan.

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto
Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum meminta maaf.
Foto: Arie Lukihardianti/Republika
Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum meminta maaf.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum meminta maaf terkait pernyataannya pada kasus anak di Tasikmalaya yang dibully temannya hingga meninggal dunia.

Sebelumnya, Uu berpendapat bahwa kasus perundungan anak dalam hal ini mengenai kejadian anak dipaksa setubuhi hewan sudah biasa. Uu bahkan mengklaim hal tersebut adalah sebuah candaan.

Baca Juga

"Saya mohon maaf menyampaikan hal semacam itu. Karena sebenarnya tidak bermaksud kepada konteks yang ada pada kejadian ini. Yang saya sampaikan saat saya bercanda dengan rekan media, temen dengan teman suka saling ledek itu biasa. Tapi sebenarnya itu tidak boleh, sekali pun hal biasa, itu tidak boleh. Itu yang saya sampaikan," ujar Uu kepada wartawan di Gedung Sate, Senin (25/7).

Uu mengatakan, dia memohon maaf atas kesalahan pernyataannya tentang hal itu. Karena memang saya dulu, ia pernah kecil dan waktu kecil suka saling meledek. "Oleh karena itu mohon maaf atas kesalahan saya," tegasnya.

 

Terkait dukungan Pemprov Jabar untuk kasus bullying di Tasikmalaya ini, Uu mengatakan, sesuai dengan arahan Gubernur Jabar, pihaknya menyerahkan semuanya kepada aparat penegak hukum. 

"Mudah-mudahan ada hikmah tersendiri. Tetapi seperti yang saya sampaikan di awal yaitu harus benar-benar keputusan yang terbaik buat anak, tidak terjadi lagi korban selanjutnya tetapi memiliki efek jera terhadap anak yang lain. Sehingga, tidak terulang lagi di Jabar," paparnya.

Selain itu, kata Uu, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pilar-pilar anak seperti KPAID, desa dan kelurahan layak anak dan juga para pemerhati anak di daerah .

"Saya minta kepada orang tua dari sejak awal untuk bisa lebih bijaksana lagi memberikan handphone kepada anak. Karena handphone ini ada mudaratnya sehingga kalau anak diberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya menggunakan handphone, saya kira ada efek negatifnya," paparnya.

Uu berharap, anak-anak bisa diberikan handphone sewajarnya. Minimal, satu sampai dua jam sehari, setelah itu bawa lagi sama orang tua. 

"Karena korban bukan hanya itu dari handphone, ada juga saat saya datang ke rumah sakit yang ada di Cisarua, banyak korban-korban handphone, hampir 30 orang, anak kecil usia SMP nyanyi saja terus, pidato terus, dan yang lainnya," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, orang tua jangan terlalu memberikan kebebasan handphone terhadap anak. Tapi diberikan aturan-aturan tertentu sehingga tidak terjadi kemudaratan bagi keluarga, pribadi, masyarakat akibat handphone.

"Saya tidak bisa menyebutkan, yang jelas ada beberapa kasus terjadi hal yang semacam ini makanya saya bilang KPAID kabupaten/kota harus segera terbentuk dan action sehingga bisa meminimalisasi," katanya.

Selain itu, kata dia, yang terpenting adalah pendidikan yang bersifat ukhrowi terhadap anak yang akan menjadikan benteng dalam kehidupan iman dan taqwanya. "Maka harapan kami, orang tua berikan pendidikan yang seimbang terhadap anak antara pendidikan duniawi dan ukhrowi sehingga akan menjadi anak yang berpribadian wasatiah," katanya.

Karena, kata dia, anak jangan hanya diberikan pendidikan yang bersifat dunia dan ukhrowi diabaikan. "Insya Allah itu pun akan menjadi benteng bagi anak dan akan menjadi pilar terhadap bullying atau pun korban-korban anak selanjutnya," katanya. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement