Ahad 11 Dec 2022 06:37 WIB

MUI Bogor Cegah Paham Menyimpang dengan Perkuat Nilai Keislaman

Ada sekitar 28 aliran pemahaman yang menyimpang di Kabupaten Bogor.

Aliran menyimpang. (Ilustrasi)
Foto: bpip
Aliran menyimpang. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, memperkuat nilai keislaman masyarakat sejak usia dini. Upaya ini dilakukan untuk mencegah pengaruh paham yang menyimpang.

"MUI mengajak elemen pendidikan termasuk ikatan para guru raudhatul atau PAUD untuk sama-sama menguatkan nilai-nilai tentang keislaman yang wasatiah sejak dini," kata Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kabupaten Bogor Saepudin Muhtar alias Gus Udin saat menjadi pemateri dalam Bahtsul Masail di Cibinong, Bogor, Sabtu (10/12/2022).

Dalam kegiatan bertajuk "Penguatan Materi Pendidikan Islam untuk Anak Usia Dina di Lingkungan RA" itu, dia mengingatkan, penguatan keagamaan pada anak usia dini merupakan fondasi utama dalam membangun karakter anak.

Dia mencatat, ada sekitar 28 aliran pemahaman yang menyimpang di Kabupaten Bogor. Sehingga, pendidikan keagamaan pada anak itu bisa menjadi fondasi utama dalam menjaga keyakinan dan kemantapan dalam beragama pada seorang anak.

 

"Kemudian untuk mengatasi masalah sosial di masyarakat, tentunya pendidikan keagamaan atau penguatan keagamaan sangat penting, khususnya pada level paling dasar ini," kata Gus Udin yang juga dosen Universitas Djuanda.

Dia juga mengingatkan, para guru tidak memberikan pemahaman agama yang radikal terhadap anak agar sikap toleransi bisa tumbuh sejak usia dini. "Ajari mereka agama yang rahmatanlilalamin dan wasatiah, agar mereka bisa menerima segala perbedaan tanpa menghilangkan keyakinan mereka," tuturnya.

Ketua Bidang Pengkajian MUI Kabupaten Bogor Ujang Ruhiyat menerangkan metode-metode pengajaran keagamaan di tingkat pendidikan paling awal ini harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.

"Agar para anak bisa mudah menerima apa yang disampaikan gurunya. Karena khawatir materi yang lebih tinggi bisa membuat anak gagal paham dalam menerima ilmu," katanya.

Oleh karenanya, dia mengaku, pemberian pemahaman keagamaan yang sedikit tapi mudah dipahami akan lebih baik daripada ajaran keagamaan yang banyak namun para murid sulit untuk mengerti.  "Sedikit-sedikit yang penting mereka paham dan bisa mengaplikasikan apa yang disampaikan gurunya," katanya.

Anggota Kelompok Kerja Guru Raudlatul Athfal (KKG RA) Kabupaten Bogor Titin menyebutkan, lembaga Raudhatul Athfal merupakan salah satu tempat yang tepat untuk anak usia dini dalam menanamkan nilai keagamaan.

"Pendidikan agama memang seharusnya ditanamkan pada anak sedini mungkin. Dan, lembaga RA adalah tempat yang tepat bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama selain di lingkungan rumah," ujarnya.

Dia optimstis, pemahaman keagamaan yang diberikan kepada anak, akan lebih mudah diserap dan dijadikan modal awal dalam menghadapi kehidupan sang anak di masa depan.

"Pemaparan Gus Udin tadi semakin meyakinkan kami (guru RA, red.) bahwa pendidikan dan pengajaran yang kami ajarkan di sekolah sungguh akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak," katanya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement