Sabtu 21 Jan 2023 13:35 WIB

Pangsa Pasar Jabar Dinilai Seksi, Tahun Ini IBF Bidik Transaksi Pialang Hingga 1 Juta Lot

Jabar memiliki pasar pialang yang cukup baik dengan jumlah penduduk yang banyak.

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto
Media Briefing IBF Outlook 2023 di Kota Bandung
Foto: Istimewa
Media Briefing IBF Outlook 2023 di Kota Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- PT International Business Futures (IBF) tahun ini membidik transaksi pialang hingga 1 juta lot. Menurut Direktur Utama PT International Business Futures (IBF), Ernawan, pangsa pasar Jawa Barat yang seksi dan naiknya komoditi emas diperkirakan akan mendorong pertumbuhan investasi pasar saham. 

Ernawan menjelaskan, Jabar adalah salah satu daerah penopang ibu kota Jakarta. Sehingga, di Jabar memiliki banyak penduduk kelas menengah dan atas. Posisi ini menempatkan Jawa Barat memiliki pasar pialang yang cukup baik. 

"Jabar adalah lumbung kami. Kita tahu, pendapatan di pulau Jawa juga cukup bagus, termasuk Jabar. Kami melihat Jabar pasarnya cukup menarik. Banyak pendatang dan pendidikan. Bisnis ini juga cukup menjanjikan di sini," ujar Ernawan, akhir pekan ini.

Melihat potensi ini, kata dia, IBF menargetkan menutup 2023 dengan total volume transaksi 1 juta lot dengan penambahan nasabah sebesar 52 persen. Menutup 2022, IBF mengalami kenaikan total volume transaksi sebesar 365.877,60 lot atau naik 98 persen dari tahun sebelumnya. 

 

Begitu pula, kata dia, untuk jumlah nasabah mencapai 2.637 orang. Raihan tersebut membuat IBF masuk dalam sepuluh besar pialang bilateral teraktif di Indonesia setiap bulannya selama tahun 2022. 

"Di awal tahun ini saja, nasabah bertambah sebesar 67 orang dengan total volume transaksi sebesar 18.258,50 lot, " katanya. 

Di tengah ancaman resesi tahun ini, kata dia, harga emas mengalami kenaikan terbukti pada Ahad kedua Januari 2023 harga emas dunia menyentuh level tertinggi dalam 8 bulan. Pelemahan dolar beserta pernyataan pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang mengungkapkan bahwa the Fed akan tetap mengambil sikap agresif terhadap inflasi merupakan sebagai pemicu utamanya.

"Sifat emas sebagai lindung nilai mampu bertahan bahkan menunjukkan tren positif saat ekonomi memburuk," katanya. 

Menurutnya, emas sebagai produk investasi paling aman. Tahan inflasi, nilainya bahkan naik saat dolar turun dan krisis moneter. Masih hangat di ingatan harga emas melonjak saat terjadi resesi 2020 akibat krisis pandemi Covid-19. 

Saat benua Asia, Eropa, dan Amerika mengalami resesi, harga emas sempat memecahkan rekor setelah satu dekade lamanya, hingga menyentuh 2.072,49/troy ons pada Agustus. Sepanjangan tahun itu, logam mulia ini sudah naik 24 persen berkat pandemi.

“Bahkan tahun ini para analis memperkirakan harga emas global bisa melampaui USD2.000/troy ons,” katanya. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement