Selasa 14 Feb 2023 05:30 WIB

Sudah Lunas Sejak 2020, Calhaj Berharap Biaya Haji Tahun Ini tak Naik

Pemerintah diharapkan bisa memutuskan besaran biaya haji secara bijaksana.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto
Sejumlah calon jamaah haji keluar dari gedung Puspihat Haji Kabupaten Indramayu. Sebanyak 100 persen calhaj Indramayu sudah lunasi Bipih.
Foto: lilis sri handayani
Sejumlah calon jamaah haji keluar dari gedung Puspihat Haji Kabupaten Indramayu. Sebanyak 100 persen calhaj Indramayu sudah lunasi Bipih.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Para calon jamaah haji (calhaj) asal Kabupaten Indramayu mengaku, keberatan jika kenaikan biaya haji diterapkan mulai tahun ini. Pasalnya, mereka sudah melunasi biaya haji sejak 2020.

Hal itu seperti yang diungkapkan seorang calhaj asal Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Fuadi. Calhaj tersebut sebelumnya telah mendaftar haji pada 2012 silam.

‘’Waktu itu saya daftar dengan membayar Rp 25 juta,’’ ujar Fuadi kepada Republika, Senin (13/2/2023).

Semestinya, Fuadi berangkat haji ke Tanah Suci pada 2020 melalui KBIH Al Washliyah Sindang. Untuk itu, dia sudah melunasi biaya haji, dengan nilai total Rp 39 juta, pada 2020.

Tak hanya melunasi biaya haji, Fuadi dan rekan-rekannya sesama calhaj juga sudah melakukan manasik haji. Mereka pun sudah membuat paspor dan memenuhi berbagai ketentuan lainnya.

Bahkan, ada pula yang sudah menggelar walimatussafar, atau syukuran jelang keberangkatan haji. Namun, impian Fuadi dan rekan-rekannya sesama calhaj untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada 2020 itu harus tertunda. Pasalnya, pemerintah saat itu memutuskan untuk tidak memberangkatkan jamaah haji karena pandemi Covid-19.

Pada 2022, saat pemerintah kembali memberangkatkan jamaah haji, Fuadi kembali harus bersabar memendam keinginannya untuk berhaji. Pasalnya, pemerintah Arab Saudi membatasi kuota haji, termasuk dari Indonesia.

‘’Saya nomor urutannya di bawah, jadi masuknya berangkat haji tahun 2023 ini,’’ tutur Fuadi.

Kegembiraan Fuadi karena akan segera menunaikan rukun Islam kelima kembali menemui batu sandungan. Pemerintah Indonesia tiba-tiba mengusulkan kenaikan biaya haji hingga menjadi Rp 69 juta per orang. ‘’Ya jelas saya keberatan,’’ tegas Fuadi.

Fuadi menilai, kenaikan biaya haji hingga Rp 69 juta per jamaah itu terlalu besar. Apalagi, waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa bulan lagi.

‘’Harapannya sih untuk yang berangkat tahun ini biaya haji tidak naik karena kami sudah melunasi sejak 2020. Segala persiapan juga sudah dilakukan sejak 2020, termasuk manasik yang sudah berjalan sembilan kali,’’ cetus Fuadi.

Fuadi berharap, pemerintah bisa memutuskan besaran biaya haji secara bijaksana. Jikapun terpaksa ada kenaikan, dia berharap, kenaikannya kurang dari Rp 10 juta.

Fuadi mengungkapkan, keinginannya untuk berhaji merupakan impiannya sejak lama. Jikapun pemerintah bersikukuh menaikkan biaya haji, dia menyatakan, akan mengupayakan berbagai cara untuk bisa memenuhinya.

‘’Mungkin nyari-nyari pinjaman, karena saya ingin tetap berangkat,’’ tukas Fuadi. 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement