Jumat 21 Apr 2023 19:11 WIB

Pengamat: Mega Sadar Puan tidak Layak Jadi Capres 

Jokowi turut berperan mempengaruhi keputusan akhir Megawati mengusung Ganjar. 

Rep: Febryan. A/ Red: Agus Yulianto
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama Presiden Joko Widodo, Ketua DPR Puan Maharani, dan Ganjar Pranowo berfoto bersama saat deklarasi Calon Presiden dari PDIP di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/4/2023). PDIP resmi mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Capres pada Pemilu 2024.
Foto: Agus Suparto
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama Presiden Joko Widodo, Ketua DPR Puan Maharani, dan Ganjar Pranowo berfoto bersama saat deklarasi Calon Presiden dari PDIP di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/4/2023). PDIP resmi mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Capres pada Pemilu 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puan Maharani belum layak diusung sebagai calon presiden pada Pilpres 2024. Padahal, PDIP selama ini condong hendak mengusung Puan. 

Demikian dikatakan  Pengamat Politik Citra Institute, Efriza, Jumat (21/4/2023). Dia menilai, keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres) menunjukkan hal tersebut. 

"Dengan akhirnya memilih dan menunjuk Ganjar Pranowo sebagai capres PDIP, artinya Puan Maharani memang dinyatakan tidak layak sebagai capres," kata Efriza kepada Republika, Jumat (21/4/2023). 

Efriza menjelaskan, Megawati tidak mengusung Puan karena menyadari bahwa elektabilitas putrinya itu rendah. Megawati diyakini pula menyadari kinerja Ketua DPR RI itu masih di bawah standar sehingga belum layak diusung menjadi ornag nomor satu di RI. 

 

Di sisi lain, kata dia, Megawati akhirnya menyadari bahwa elektabilitas Ganjar selalu tinggi. Sejumlah lembaga survei dalam beberapa bulan terakhir memang mendapati Ganjar Pranowo sebagai satu dari tiga bakal capres dengan elektabilitas teratas. 

"Jelas ini strategi memenangkan pilpres. PDIP menyadari survei adalah realitas siapa yang harus diusungnya," kata Dosen Ilmu Pemerintahan di Universitas Sutomo, Serang, Banten itu. 

Efriza juga menyoroti, faktor Jokowi dalam penentuan sikap Megawati mengusung Ganjar. Menurut dia, Jokowi turut berperan mempengaruhi keputusan akhir Megawati mengusung Ganjar. 

Dia meyakini, bahwa Jokowi meminta Mega mengusung Ganjar apabila tetap ingin berkoalisi dengan partai-partai pemerintah. Mayoritas partai pendukung pemerintah diketahui sebelumnya hendak membentuk koalisi besar di bawah komando Jokowi. 

"Ini membuktikan Megawati tidak benar-benar sebagai pemain tunggal dalam memutuskan siapa capres dari PDIP. Megawati dapat dipengaruhi dan terpengaruh oleh Presiden Jokowi," kata Efriza. 

Pada Jumat (21/4/2023) siang, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengumumkan bahwa partainya mengusung Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagai calon presiden 2024. Megawati menyebut, keputusan tersebut diambil setelah dirinya berkontemplasi, mencermati harapan rakyat, dan memohon petunjuk dari Allah SWT. 

"Menetapkan Ganjar Pranowo yang saat ini sebagai gubernur Jawa Tengah sebagai kader dan petugas partai untuk ditingkatkan penugasannya sebagai calon presiden Republik Indonesia dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan," ujar Megawati di Istana Batu Tulis, Kota Bogor, Jawa Barat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement