Jumat 14 Jul 2023 05:11 WIB

Biar Publik Menilai Masalah JIS

Publik sudah paham kemana arah tujuan isu JIS ini digulirkan.

Rep: Febrian Fachri / Red: Agus Yulianto
Capres dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan, Anies Rasyid Baswedan.
Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Capres dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan, Anies Rasyid Baswedan.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Pengamat politik dari Universitas Andalas Najmuddin Rasul menilai, isu Jakarta International Stasium (JIS) hanya sekedar ajang pembunuhan karakter terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menurut Najmuddin, elit-elit yang memainkan isu JIS justru melakukan blunder sehingga dapat berdampak buruk terhadap elektabilitas capres yang didukung pemerintah Jokowi.

“Publik sudah paham kemana arah tujuan isu JIS ini digulirkan. Itu hanya sekedar pembunuhan karakter terhadap Anies Baswedan,” kata Najmuddin, Kamis (13/7/2023).

 

photo
Suasana Jakarta International Stadium (JIS) di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (4/7/2023). Pemerintah akan merenovasi JIS sesuai dengan standar FIFA agar bisa menjadi salah satu venue penyelenggaraan Piala Dunia U-17 2023. (Republika/Putra M. Akbar)

 

Najmuddin menilai, walaupun JIS adalah karya Anies Baswedan saat menjadi Gubernur DKi, sekarang stadion yang berlokasi di Jakarta Utara itu sudah jadi milik publik yang dikelola pemerintah. Dengan kata lain, stadion tersebut bukan milik Anies.

Hal itu, kata Najmuddin, dipertegas Anies sendiri begitu baru kembali ke Tanah Air usai melaksanakan ibadah haji beberapa hari lalu di mana Anies menolak ikut campur polemik seputar JIS.

“Menurut saya, bila dilihat dari sisi politik kasus rumput JIS ini sangat erat politik. Sebab, JIS adalah karya Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI,” ujar Najmuddin.

Najmuddin menambahkan, publik sudah mampu menilai sendiri skenario politik yang dibuat rezim untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Karena masyarakat, kata dia, saat ini, sudah mampu untuk rasional menelaah berbagai isu yang mencuat. Sehingga, mereka tidak mudah percaya begitu saja terhadap omongan dari tokoh politik.

“Kebijakan Jokowi dan menteri-menteri nya itu juga bisa berdampak negatif pada tingkat partisipasi politik pemilih milenial.  Pemilih muda ini berjumlah 51.93 persen,” ujar Najmuddin.

 

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement