Senin 04 Sep 2023 17:43 WIB

IMM Jabar Gelar Diskusi Kedekatan Soekarno dan Muhammadiyah

Puncak hubungan mesra Bung Karno dengan Muhammadiyah saat pengasingan di Bengkulu.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Diskusi kebangsaan yang dihelat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Barat, Ahad (3/9/2023).
Foto: dok. Republika
Diskusi kebangsaan yang dihelat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Barat, Ahad (3/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Tak banyak orang tahu, jika mantan presiden Indonesia pertama, Bung Karno punya hubungan yang dekat dengan Muhammadiyah.

Hal ini terungkap dalam diskusi kebangsaan yang dihelat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Barat, Ahad (3/9/2023).

Founder Monday Media Group Muhammad Muchlas Rowi yang hadir dan menjadi pembicara dalam diskusi tersebut mengungkapkan, interaksi Bung Karno dengan Muhammadiyah sejatinya terjadi sejak bapak proklamator Indonenesia remaja.

Tepatnya ketika ia bersekolah di Hogere Burger School, Kota Bandung. Karena jauh, Soekarno muda pun memilih indekos di Rumah HOS Tjokroaminoto. 

Di tempat inilah ia banyak belajar tentang Alquran, tentang Islam baik kepada Tjokro maupun Ahmad Dahlan yang kerap berkunjung dan mengajar.

“Peran Tjokro dan Ahmad Dahlan sangat penting dalam sejarah Bung Karno memahami Islam. Bung Karno belajar tentang sosialisme Islam dari Tjokroaminoto, dan pembaruan serta pentingnya ijtihad dari Ahmad Dahlan,” ujar Muchlas.

Soekarno sepakat dengan dialog K.H. Ahmad Dahlan mengenai Islam dengan rasional dan kerakyatan. Dari sinilah, pemikiran Islam Progresif Bung Karno lahir.

Tak hanya pemikiran, Bung Karno bahkan sempat aktif menjadi pengurus Muhammadiyah di Bengkulu, semasa pengasingan.

Puncak hubungan mesra Bung Karno dengan Muhammadiyah adalah ketika masa pengasingan di Bengkulu. 

Selain aktif sebagai Ketua Dewan Pengajaran Muhammadiyah, Bung Karno juga menikah dengan putri Tokoh Muhammadiyah Bengkulu, Hasan Din.

“Dialah Ibu Fatmwati, perempuan di balik bendera merah putih yang seringkali sama-sama kita tinggikan (merah putih). Nafas dan gerak Bung Karno pun sejak itu, tak lepas dari hal-hal yang diajarkan Muhammadiyah,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Ono Surono yang juga hadir dalam acara diskusi mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut. 

Ono kagum dengan hubungan mesra Bung Karno dan Muhammadiyah. “Ada cerita bagaimana Bung Karno tertarik dengan muhammadiyah, Bung Karno beraktivitas di muhammadiyah, lalu setiap gerak dan langkahnya tidak lepas dari hal-hal yang diajarkan muhammadiyah,” ujar Ono.

Sampai-sampai, kata Ono, ketika jelang wafat, Bung Karno meminta jenazahnya kelak diselubungi bendera Muhammadiyah. 

Bung Karno sebut Ono, bahkan meminta jenazahnya kelak diimammi Buya Hamka. “Meski sempat bersitegang, Bung Karno tetap cinta dan hormat kepada Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah ternama kala itu. Bung Karno meminta Buya mengimami dan menshalati jenazahnya,” tegas Ono.

Ono Surono berpandangan, belum banyak orang tahu tentang sejarah Bung Karno dan Muhammadiyah. Terutama anak muda. 

Karena itu, Ono mengajak, anak muda untuk tidak lupa pada sejarah. “Anak muda harus memiliki komitmen untuk memegang teguh ‘Jas Merah’ Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” katanya. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement