Rabu 04 Oct 2023 12:43 WIB

Ketum PDIP Pengganti Megawati Diyakini Tetap Keturunan Sukarno, Tapi Jokowi? 

Kader PDIP yang bukan trah Soekarno  tetap berpeluang menjadi ketum. 

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato penutupan rapat kerja nasional (Rakernas) IV PDIP, di Jakarta International Expo, Jakarta, Ahad (1/10/2023).
Foto: Dok. PDIP
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato penutupan rapat kerja nasional (Rakernas) IV PDIP, di Jakarta International Expo, Jakarta, Ahad (1/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keturunan Sukarno diyakini akan menjadi suksesor Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum PDIP. Sebab, partai berlogo banteng moncong putih itu memang didirikan oleh Megawati untuk mengabadikan ajaran Bung Karno. 

"Bung Karno kan mewariskan ajaran-ajaran. Supaya abadi, ajaran-ajaran Bung Karno itu diwadahkan, diberikan badan oleh Megawati Soekarnoputri. Badannya, namanya PDIP," kata pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio lewat keterangan tertulisnya, Rabu (4/10/2023). 

Selain itu, sosok Bung Karno adalah perekat di PDIP. Megawati sebagai putri Bung Karno juga sukses membesarkan PDIP, bahkan lebih sukses dibanding bapaknya yang membesut Partai Nasional Indonesia (PNI). 

“Jadi, sangat mungkin memang yang akan mewariskan PDIP setelah Bu Mega adalah orang yang memiliki garis dan darah Bung Karno,” ujarnya. 

 

Kendati begitu, Hendri menyebut, kader PDIP yang bukan trah Soekarno seperti Presiden Jokowi tetap berpeluang menjadi ketum. Namun, menurut dia, itu akan menjadi sesuatu yang aneh. 

"Akan aneh (kalau Pak Jokowi jadi ketum PDIP), karena kalau dikatakan apakah kader ideologis, ya Pak Jokowi memang kader yang paling banyak menerima nikmat dari PDIP," kata Hensat. 

"Tapi, Pak Jokowi masuk PDIP kan karena waktu itu dia maju sebagai calon wali kota Solo. Tiba-tiba menjadi kader karena diajak Pak FX Rudy, tapu kemudian jadi kader terbaik," ujarnya menambahkan. 

Terpisah, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyebut, penentuan ketum akan dilakukan dalam kongres partai pada 2025. Menurut dia, kini pengurus daerah PDIP di seluruh Indonesia menginginkan partai tetap dipimpin oleh Megawati pasca-Pemilu 2024. Sebab, pengurus daerah menilai Megawati merupakan sosok yang kuat dan punya kedekatan emosional dengan pengurus ranting, kader, dan simpatisan. 

Ketika diminta penegasannya apakah ketum PDIP harus keturunan atau trah Sukarno, Hasto menyatakan bahwa arus bawah PDIP menempatkan keluarga Bung Karno sebagai ideolog dan tokoh sentral partai. 

"Arus bawah yang kami tangkap itu menempatkan keluarga Bung Karno sebagai ideolog, Bung Karno sebagai proklamator, dan bapak bangsa. Sehingga partai ID itu salah satu strong poinnya memang dari Bung Karno," kata Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Selasa (3/10/2023). 

Jokowi diketahui bukan keturunan Bung Karno. Adapun trah Sukarno yang kini menduduki posisi strategis di PDIP ada tiga orang, yakni Megawati dan dua anaknya, Puan Maharani dan Prananda Prabowo. 

Usulan untuk menjadikan Jokowi sebagai ketum PDIP datang dari Guntur Soekarnoputra, yang merupakan kakak Megawati. Guntur juga mengusulkan agar Megawati diangkat sebagai dewan pembina. Ketua DPC PDIP Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mendukung usulan tersebut. 

Usulan itu semakin kencang dibahas seusai putra Jokowi, Kaesang Pangarep, diangkat menjadi ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kaesang menjadi ketum hanya berselang dua hari setelah dirinya bergabung dengan partai anak muda itu. Sedangkan bapaknya sudah puluhan tahun menjadi kader PDIP, tapi tak punya jabatan apa pun di partai.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement