Sabtu 28 Oct 2023 06:59 WIB

Budiman Dipecat, Gibran tak Bestatus Kader PDIP, Begini Kata FX Rudy 

Ada perbedaan mekanisme partai yang diterapkan pada keduanya.

Rep: c02/ Red: Agus Yulianto
Ketua DPC PDIP Kota Solo FX Hadi Rudyatmo meminta Gibran segera serahkan KTA dan surat pengunduran diri, Rabu (25/10/2023).
Foto: Republika/Alfian Choir
Ketua DPC PDIP Kota Solo FX Hadi Rudyatmo meminta Gibran segera serahkan KTA dan surat pengunduran diri, Rabu (25/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Ketua DPC PDIP Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan, alasan kenapa ada perlakuan berbeda terhadap Budiman Sudjatmiko. Seperti diketahui, Budiman resmi dipecat sebagai kader PDIP per tanggal 25 Agustus 2023. Pemecatan tersebut adalah buntut dari dukungan Budiman kepada Prabowo Subianto. 

Di sisi lain, Gibran yang kini telah resmi sebagai cawapres Prabowo hanya secara de facto sudah tak berstatus kader PDIP lantaran maju dari Koalisi Indonesia Maju. Namun, hingga kini belum ada kabar bahwa ia telah dipecat sebagai kader PDIP. 

Ditemui di kediamannya, Rudy mengatakan, ada perbedaan mekanisme partai yang diterapkan. Pasalnya, Budiman pernah menjabat di DPR sedangkan Gibran hanya wali kota Solo. 

"Beda (Budiman dan Gibran) karena (Budiman di) DPR RI bos. Kalau tingkat Kepala Daerah itu hal biasa. Saya selalu berikan contoh, dulu waktu pak Bibit Waluyo dicalonkan PDIP terus dicalonkan Golkar, terus Sri Ningsih jadi bupati dari PDIP mencalonkan lagi dari Gerindra. Banyaklah yang seperti itu," katanya.

 

Kendati hak memecat ada pada DPC, Rudy mengatakan tak akan memecat Gibran meski telah maju dari koalisi yang berbeda. 

"Saya tidak akan memecat, namun etika ketika Mas Gibran mau mencalonkan (dulu sebagai Wali Kota) kan harus punya KTA. Melalui ranting PAC, DPC Keluarkan KTA sarana untuk mendaftar sebagai Wali Kota. Dulu saya sudah menyampaikan tegak lurus sesuai dengan aturan partai," katanya. 

Disinggung apakah sikap partai tersebut terlalu lunak pada Gibran, Rudy mengaku tak ambil pusing akan hal tersebut. 

"Lha ngapain kok terlalu lunak. Biarin dianggap terlalu lunak beneran potongan preman bisa lunak," katanya.

Rudy juga mengaku telah mengirimkan pesan untuk bertemu dengan Gibran. Ia mengatakan hal itu terkait meminta surat pengembalian KTA dan pengunduran diri sebagai Kader PDIP.  

“Selamat pagi Mas Wali, mohon izin minta waktu kalau berkenan saya mau sowan Mas Wali,” tulis pesan itu dilihat Republika, Jumat (27/10/2023). 

Rudy juga mengatakan, telah mengirim pesan kepada ajudannya Gibran. Namun, dia mengatakan, pesan tersebut sudah dibalas oleh ajudannya.

“Justru saya yang mau kesana (ketemu Gibran) saya sudah Whatsapp beliau, yang balas ajudan kalau Mas Wali belum dijawab baru dijawab ajudan. Saya akan menulis surat kepada Mas Wali tapi nunggu ini dulu dibalas sama menunggu waktu” kata Rudy, Jumat (27/10/2023). 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement