Senin 06 Nov 2023 17:26 WIB

Harga Kedelai Impor Naik, Ini Cara Perajin Tempe di Cirebon agar tak Merugi

Harga kedelai impor dari Amerika disebut terus naik secara bertahap. 

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Kedelai impor.
Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
(ILUSTRASI) Kedelai impor.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Harga kedelai impor yang terus mengalami kenaikan dikeluhkan perajin tempe di Kota Cirebon, Jawa Barat. Pasalnya, perajin tempe khawatir kehilangan pembeli jika menaikkan harga jual tempe.

Kedelai merupakan bahan baku utama pembuatan tempe. Salah seorang perajin tempe di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Maduri, mengatakan, biasanya harga kedelai impor berkisar Rp 10 ribu sampai Rp 11 ribu per kilogram. 

Baca Juga

Sedangkan saat ini harganya disebut sudah mencapai sekitar Rp 12.500 per kilogram. “Itu kedelai impor dari Amerika. Harganya sekarang lagi naik terus,” kata Maduri, Senin (6/11/2023).

Maduri mengaku biasa berbelanja kedelai sebanyak satu ton per pekan. Ia mengaku kaget karena setiap kali belanja kedelai harganya terus merangkak naik. “Tiap kali belanja harganya naik terus, enggak berhenti-berhenti,” katanya.

Lantaran harga kedelai naik, Maduri mengaku terpaksa menyiasatinya dengan memperkecil ukuran tempe. Cara itu dinilai jalan terbaik dibandingkan menaikkan harga jual tempe.

Jika harga jual tempe dinaikkan, menurut Maduri, ada potensi kehilangan pelanggan. Selama ini, Maduri menjual tempe seharga Rp 3.000 per potong. “Kita perkecil ukuran tempe biar bisa nutup modal. Kalau naikkin harga jual tempe, orang-orang pada enggak mau beli,” kata Maduri.

Maduri berharap pemerintah dapat segera menekan kenaikan harga kedelai. Diharapkan harga kedelai bisa stabil.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement