Kamis 01 Feb 2024 14:44 WIB

Tuberkulosis di Bandung Tinggi, FK Unisba Lakukan Investigasi Kontak Erat Pasien

Pelatihan kader Posyandu diberikan sebagai garda terdepan untuk mendata TB

Tim FK Unisba memberikan pelatihan pada kader Posyandu
Foto: Dok Unisba
Tim FK Unisba memberikan pelatihan pada kader Posyandu

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG---Kejadian Tuberkulosis (TB) di Kota Bandung angkanya cukup tinggi sebagai penyakit infeksi yang menyebabkan kematian. Menurut Ketua Tim Pengabdian dari Fakultas Kedokteran (FK) Unisba, Dr Yani Triyani, dr SpPK MKes, berdasarkan hasil survey dan wawancara dengan kepala Puskesmas Margahayu Raya, pada 2022 cakupan penemuan pasien baru penderita  hanya 52,6 persen. Sehingga, masih perlu diupayakan lebih giat lagi. 

"Kami tim dari Unisba, bekerja sama dengan Puskesmas Indramayu membuat program Investigasi Kontak Erat Pasien Tuberkulosis Paru," ujar Yani kepada wartawan, Kamis (1/2/2024).

Baca Juga

Kegiatan ini, kata dia, bertujuan melakukan pelatihan kader posyandu sebagai garda terdepan setelah pihak keluarga yang mampu mendeteksi dini kejadian TB dari keluarga pasien sebagai pihak yang disebut kelompok kontak erat pasien TB. 

Harapannya, kata Yani, dengan deteksi dini, penanganan cepat dan tepat, dampak buruk keluarga sebagai penular atau yang tertular TB dapat segera ditangani dengan baik. "Hasil diskusi antara Tim Pengabdi dengan para kader adalah ditemukan warga yang tidak mau dikunjungi karena masih ada image persepsi yang salah tentang penyakit Tuberkulosis," paparnya.

Selain itu, kata dia, masih ada anggapan bahwa Tuberkulosis penyakit yang memalukan. Sehingga, anggota keluarga tidak mau mengikuti investigasi kontak erat, agar mau didata kontak serumah dan kontak erat kasus TBC, melakukan skrining secara langsung terhadap setiap kontak dengan TCM dan Mantoux tes di sekitar kasus TBC dan menemukan terduga TBC serta merujuk terduga TBC dan semua kontak anak kurang 5 tahun ke fasyankes.

Usaha yang dilakukan oleh Tim Pengabdi dengan para kader, kata dia, adalah melakukan pembahasan lebih intensif dengan para kader melalui refreshing. Serta, diskusi interaktif setelah kegiatan tahap-1 untuk mencari solusi langkah yang dapat dilakukan untuk pendekatan kepada warga yang ditemukan sebagai kasus baru. 

"Usulan beberapa kader adalah melakukan pendekatan melalui tokoh masyarakat dan keagamaan kepada warga yang terdiagnosis TB untuk memberi penjelasan tentang penyakit TB," katanya.

Warga yang tidak mau dikunjungi oleh kader TB, kata dia, dilakukan kunjungan dengan bantuan petugas TB Puskesmas dan perwakilan tim pengabdi. Dengan usaha yang dilakukan tersebut, berhasil dilakukan investigasi kontak erat sebanyak 32 orang dengan hasil temuan kasus baru 2 orang dari 6 kasus TB yang terduga awalnya. 

"Dengan upaya pendampingan Kader TB untuk pelaksanaan investigasi kontak erat menambah penemuan aktif secara intensif dan masif berbasis keluarga dan masyarakat," katanya.

Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Unisba ini mendapat pembiayaan Hibah Internal. Program, dilakukan pada bulan April‒Desember 2023 bekerja sama dengan Puskesmas Margahayu Raya dengan judul PKM Pendampingan Kader Posyandu dalam program Investigasi Kontak Erat Pasien Tuberkulosis Paru.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement