Jumat 08 Mar 2024 22:17 WIB

Baterai Bisa Pakai Nikel, Peluang Bagi Indonesia Pemilik Sumber Daya Nikel Terbesar Dunia

Baterai dengan nikel laterit dapat menyimpan energi yang besar

Harita Goes to Campus di Unpar, Jalan Ciumbuleuit, Jumat (8/3/2024).
Foto: Dok Republika
Harita Goes to Campus di Unpar, Jalan Ciumbuleuit, Jumat (8/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG ---- Sumber daya nikel laterit yang ada di Indonesia, terbesar di dunia. Berdasarkan data Nickel Institute, total sumber daya (resources) nikel global mencapai sekitar 320,5 juta ton pada 2022.

Menurut Direktur TBP Harita Nickel, Tonny Gultom, dalam 10 tahun terkahir Indonesia menjadi yang terbesar. Apalagi, biji yang digunakan sekarang bisa untuk bahan baku baterai. 

Baca Juga

"Jadi, kalau untuk bahan baku baterai yang menggunakan nikel itu, nikelnya 80 persen, kobalt 10 persen dan mangan 10 persen, itu adalah baterai yang kualitas dan kebutuhan yang besar, saat ini yang banyak beredar adalah beterai dengan jenis LFP atau lithium, besi fosfat," ujar Tonny, usai acara Harita Goes to Campus di Unpar, Jumat (8/3/2024).

Menurutnya, baterai dengan nikel laterit dapat menyimpan energi yang besar. Sehingga bisa digunakan untuk bepergian jarak jauh. "Mungkin Jakarta- Surabaya yang LFP tidak bisa, harus beberapa kali cas. Kalau ada nikel mungkin dia hanya satu kali," katanya. 

Saat ini, kata dia, Harita sendiri mampu produksi 55 ribu ton nikel pada 2023. Tahun ini, jumlah produksinya akan ditingkatkan sampai 120 ribu ton nikel. Hasil produksi nikel tersebut, saat ini masih diekspor ke luar negeri karena di Indonesia belum banyak pabrik turunannya. 

"Karena saat ini, pabrik di bawahnya pabrik baterai, katode itu belum ada di Indonesia, jadi kita masih jual ke luar negeri ekspor. Mudah-mudahan Indonesia bangun industri di bawahnya jadi kita bisa jual ke dalam negeri," katanya.

Menurutnya, industri nikel ini sangat potensial dan menjadi peluang besar bagi anak bangsa untuk berkarir di industri ini. Alasan itu pula, yang membuat Harita Nikel datang ke kampus-kampus untuk menyosialisasikan kepada mahasiswa bahwa industri nikel itu banyak, bukan tambang saja.

"Kalau pertambangan itu, bukan sarjana tambang dan geologi saja, tapi sarjana lain juga dibutuhkan untuk industrinya, karena semakin berkembang tidak hanya tambang, ada pabrik butuh teknologi, butuh sarjana dari sosial, ekonomi, psikologi dan lainnya, itu tujuan kami," katanya.

Selain ke Unpar, sebelumnya Harita Nikel juga pernah datang ke Unpad dan ITB untuk mengajak para mahasiswa berkarir di industri nikel.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement