Senin 02 Feb 2026 19:13 WIB

Sawahnya Kebanjiran, Petani di Indramayu dan Cirebon Minta Rentang Kurangi Penggelontoran Air

Permintaan pengurangan debit itu rata–rata mencapai 40–50 persen.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Karta Raharja Ucu
Petani memeriksa sawah yang dipasang aliran listrik di Indramayu, Jawa Barat, Jumat (16/1/2026). Meski adanya imbauan untuk tidak menggunakan listrik sebagai jebakan tikus, petani di daerah tersebut terpaksa tetap memasang aliran listrik karena dianggap lebih efektif guna mengatasi serangan hama tikus yang merusak tanaman padi milik mereka.
Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Petani memeriksa sawah yang dipasang aliran listrik di Indramayu, Jawa Barat, Jumat (16/1/2026). Meski adanya imbauan untuk tidak menggunakan listrik sebagai jebakan tikus, petani di daerah tersebut terpaksa tetap memasang aliran listrik karena dianggap lebih efektif guna mengatasi serangan hama tikus yang merusak tanaman padi milik mereka.

REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA -- Banjir sempat menggenangi areal persawahan di sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu dan Cirebon, Jawa Barat, pekan kemarin. Selain tingginya intensitas hujan, banjir juga disebabkan meluapnya saluran irigasi akibat tingginya debit air dari hulu.

Untuk itu, petani di sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu dan Cirebon sempat mengajukan permintaan penurunan debit air ke pengelola Bendung Rentang, Kabupaten Majalengka. Air dari bending itu selama ini dialirkan ke areal sawah di kedua kabupaten tersebut melalui Saluran Induk (SI) Cipelang maupun SI Sindupraja.

Baca Juga

Adapun wilayah Indramayu yang meminta pengurangan penggelontoran air itu di antaranya datang dari Kecamatan Losarang, Cantigi, Sindang, Krangkeng , Karangampel serta sejumlah daerah lainnya. Sedangkan wilayah Cirebon, permintaan itu datang dari daerah Bakung, Suranenggala dan Gegesik.

“(Pekan) kemarin betul (ada pengurangan),” ujar Pengelola Bendung Rentang, Dadi Supriadi, Senin (2/2/2026).

Ia menyebutkan, permintaan pengurangan debit itu rata–rata mencapai 40–50 persen. Dengan demikian, pendistribusian air melalui SI Cipelang yang semula 23 meter kubik menjadi hanya 12 meter kubik.

Sedangkan untuk SI Sindupraja yang semula 40 meter kubik, menjadi 22 meter kubik. Dengan adanya pengurangan ke saluran irigasi maka air yang masuk ke Bendung Rentang lebih banyak dialirkan ke Sungai Cimanuk.

“Tapi hari ini sudah mulai ada permintaan penambahan. Jadi tadi siang mulai berangsur ditambah debit air di masing-masing saluran,” terang Dadi.

Sementara itu, seiring dengan terjadinya cuaca esktrem yang memicu bencana hidrometeorologi, Bupati Majalengka, Eman Suherman, kembali mengintruksikan agar semua kepala OPD, camat untuk segera menginventarisasi kejadian bencana alam di wilayah masing-masing. Selain itu, menghitung dampaknya dan segera mengambil langkah penanganan.

“Mudah mudahan tidak terjadi lagi bencana menimpa wilayah Majalengka, apalagi yang menimbulkan korban jiwa,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement