Selasa 15 Sep 2026 18:50 WIB

Dua Buku Karya Politisi Gerindra Daddy Rohanady Dibedah Akademisi

Kedua buku yang dibedah berjudul Kertajati dan Antara Perut dan Maut.

Politisi Gerindra, Daddy Rohanady (tengah)
Foto: Muhammad Taufik/Republika
Politisi Gerindra, Daddy Rohanady (tengah)

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG — Dua buku karya politisi senior Partai Gerindra Jawa Barat, Daddy Rohanady dibedah akademisi dalam Festival Literasi Jawa Barat di Kantor Bapusipda Jabar, Jl Kawaluyaan Bandung, Selasa (15/9/2026). Kegiatan yang dihadiri ratusan siswa, mahasiswa, dan perwakilan organisasi perangkat daerah tersebut berlangsung meriah.

Kedua buku yang dibedah berjudul Kertajati dan Antara Perut dan Maut. Keduanya ditulis ketika pandemi Covid-19 masih melanda dan diterbitkan pada April 2022. Buku Kertajati mengangkat berbagai persoalan pemerintahan dan pembangunan, sedangkan Antara Perut dan Maut menyajikan autokritik yang membangun dengan genre politik.

Dr. Hening Widiatmojo, MA, sebagai pembedah pertama, menilai tulisan Daddy memiliki daya tarik karena lahir dari pengalaman langsung sebagai politisi sekaligus anggota parlemen.

Menurut Hening, karya Daddy tidak semata-mata berangkat dari imajinasi seorang penyair. Berbagai sajak di dalamnya merupakan refleksi atas persoalan yang dilihat, didengar, dan dihadapi masyarakat.

“Menulis puisi itu adalah curahan perasaan,” ujar Hening saat menyampaikan ulasan.

photo
Politisi Gerindra, Daddy Rohanady (tengah) - (Muhammad Taufik/Republika)

 

Ia menyoroti sajak berjudul Caringin yang mengangkat persoalan pembangunan bendungan di Kabupaten Sukabumi. Menurut dia, sajak tersebut mencerminkan keresahan terhadap pembangunan infrastruktur yang belum tuntas.

Hening menilai, karya Daddy perlu dilihat dari sudut pandang seorang wakil rakyat yang menyampaikan keresahan terhadap persoalan pembangunan, bukan semata-mata menggunakan ukuran sastra.

“Yang menuliskan adalah seorang politisi di parlemen. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa,” katanya.

Sementara itu, dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr.H.Ateng Kusnandar, S.H., M.M., turut membedah buku tersebut. Dalam ulasannya, Ateng menyoroti sajak Jatigede dan membagikan pengalamannya saat menjadi kuasa hukum Gubernur Jawa Barat pada beberapa tahun lalu.

Ia mengisahkan keterlibatannya dalam menghadapi gugatan warga terkait pembangunan Waduk Jatigede. Menurut Ateng, gugatan tersebut diajukan oleh 1.464 orang dan berlangsung hingga tingkat kasasi.

Ateng menyebut pemerintah memenangkan proses hukum tersebut karena didukung alat bukti yang lengkap.

Sementara itu, Daddy menjelaskan, pemilihan puisi dan sajak merupakan upayanya menyampaikan gagasan secara sederhana. Menurut dia, bahasa yang mudah dipahami akan membuat kritik pembangunan lebih dekat dengan masyarakat, termasuk generasi muda.

Berbagai persoalan pembangunan Jawa Barat dituangkan dalam tulisannya, mulai dari perhubungan, bina marga, lingkungan hidup, sumber daya mineral, hingga pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Daddy berharap Kertajati dapat menjadi jendela besar Jawa Barat sekaligus pengungkit perekonomian daerah. Ia mengaku memiliki ikatan emosional dengan pembangunan bandara tersebut sejak groundbreaking pada era Presiden Joko Widodo.

“Saya pikir kita punya jendela besar, bisa pergi dari dan ke Jawa Barat lewat Kertajati. Ternyata kemudian berubah,” tuturnya.

Melalui bedah buku itu, Daddy berharap budaya literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca. Ia mendorong generasi muda berani berpikir, menulis, dan menyampaikan gagasan bagi kemajuan Jawa Barat.

“Yang paling penting, generasi muda harus sadar bahwa mereka adalah calon pemegang tongkat estafet berikutnya,” ucap Daddy yang empat kali menjadi legislator di DPRD Jabar. 

Berita Lainnya

Rekomendasi