REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menilai upaya pemulihan lahan kritis dan mempertahankan konservasi di daerah Puncak, Megamendung, Kabupaten Bogor yang dilakukan EIGER Nature merupakan langkah tepat untuk memperkuat ekologis di kawasan tersebut.
Restorasi lahan kritis itu dilakukan di area PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 seluas 73,23 hektare yang ditanami lebih dari 120 ribu pohon dan 8 juta semak serta tanaman penutup tahan. Pendataan keanekaragaman hayati di zona Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) seluas 235,66 hektare serta pengelolaan air dan lingkungan secara berkelanjutan juga dilakukan.
"Selama ini kami melihat EIGER Nature sebagai salah satu perusahaan yang masih memiliki komitmen. Kami juga melihat bahwa EIGER sangat terbuka untuk menerima saran, masukan, termasuk kritik. Jarang sekali perusahaan yang bisa menempatkan dirinya seperti itu," kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jawa Barat, Wahyudin Iwang saat dikonfimasi, Rabu (7/10/2026).
Pihaknya sudah melakukan pengawasan dan analisis lingkungan di kawasan EIGER Nature yang hadir dengan wajah baru pengembangan eco-tourism atau ekowisata yang merupakan wujud dari kegiatan ekonomi yang sekaligus dapat memuliakan lingkungan.
Walhi juga melakukan pengecekan langsung terhadap kelengkapan perizinan dan dokumen lingkungan. Hasilnya, seluruh persyaratan dinyatakan telah terpenuhi dan sejalan dengan proses pengembangan yang berlangsung sejak 2018, mencakup perizinan tata ruang, persetujuan lingkungan, rencana tapak hingga izin bangunan.
"Kami datang ke sini untuk melihat secara langsung apakah masukan, saran, pandangan, dan kritik yang sebelumnya kami sampaikan telah dijalankan," ujarnya.
Meski begitu, Walhi Jawa Barat mengingatkan pelestarian lingkungan ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Menurut Iwang, EIGER Nature masih berada di tahap awal perjalanan. Namun jika dikelola secara konsisten dengan melibatkan pakar, akademisi dan organisasi masyarakat sipil, kawasan ini berpotensi menjadi percontohan atau proyek percontohan (pilot project) bagi pelaku usaha lain yang mengembangkan kegiatan berbasis alam.
"Kalau terus dilakukan dengan serius dan terus melibatkan tim pakar, akademisi, serta NGO, ini bisa menjadi pilot project atau menjadi pembelajaran bagi pengusaha lain yang menjalankan kegiatan berbasis alam," kata dia.
Direktur Utama EIGER Nature, Imanuel Wirajaya mengatakan, ekowisata yang dikelolanya dibangun melalui proses kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak. Dimana keterbukaan terhadap kritik merupakan bagian dari konsep kolaborasi pentahelix yang dipegang teguh.
"Kami ingin membuka ruang agar masukan dan kritik tidak hanya disampaikan, tetapi juga dapat dilihat kembali secara langsung di lapangan, apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah baik untuk dipertahankan dan apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan," kata Imanuel.
Imanuel mengatakan, menjaga alam merupakan perjalanan bersama. Apalagi EIGER Nature dikembangkan dengan pendekatan 3E Ekowisata yakni ekologi, etnologi, dan ekonomi. Alih-alih merusak, eco-tourism mengajak pengunjung untuk menikmati liburan sekaligus ikut menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung ekonomi masyarakat
Pendekatan itu menempatkan keseimbangan antara kelestarian alam, budaya dan masyarakat, serta manfaat ekonomi sebagai fondasi destinasi. Ronny mengatakan, EIGER Nature ingin memastikan aktivitas pariwisata dapat berjalan berdampingan dengan konservasi alam, pelestarian budaya, edukasi, pemberdayaan masyarakat, sekaligus menghadirkan pengalaman yang menarik dan bermakna.
"Kami percaya, menjaga alam adalah perjalanan bersama. Dari keterbukaan, kritik, ilmu pengetahuan, dan kolaborasi, kita dapat menciptakan pengalaman di alam yang bermakna bagi manusia sekaligus membawa kebaikan bagi alam dan generasi mendatang," kata dia.