Kamis 03 Feb 2022 13:18 WIB

BUMD Jasa Sarana Mulai Pembangunan Tol Getaci 

Pendapatan BUMD Jasa Sarana pada 2021, hampir Rp 200 miliar naik tiga kali lipat.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Direktur Utama PT Jasa Sarana Hanif Mantiq menjelaskan, tahun ini Jasa Sarana menghadapi banyak proyek infrastruktur. Yakni, dari mulai jalan, rumah sakit, hingga pengelolaan limbah.
Foto: istimewa
Direktur Utama PT Jasa Sarana Hanif Mantiq menjelaskan, tahun ini Jasa Sarana menghadapi banyak proyek infrastruktur. Yakni, dari mulai jalan, rumah sakit, hingga pengelolaan limbah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- BUMD PT Jasa Sarana (JS) menargetkan, mengakselerasi sejumlah proyek infrastruktur di tahun 2022. Yakni, menyelesaian Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu), Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci), dan TPPAS Nambo, Bogor. 

Direktur Utama PT Jasa Sarana Hanif Mantiq berharap, kinerja korporasi bisa lebih moncer dibanding tahun sebelumnya. Sehingga, meskipun ada pandemi, Jasa Sarana masih bisa meraup kenaikan pendapatan hampir tiga kali lipat pada 2021 lalu. 

“Target perusahaan tahun ini bisa lebih baik. Pendapatan kita tahun lalu itu hampir Rp 200 miliar, naik tiga kali lipat, mudah-mudahan tahun ini bisa lebih baik lagi, seiring pemulihan ekonomi,” ujar Hanif dalam siaran pers, Kamis (3/2).

Hanif menjelaskan, tahun ini Jasa Sarana menghadapi banyak proyek infrastruktur. Yakni, dari mulai jalan, rumah sakit, hingga pengelolaan limbah. Untuk proyek tol, pihaknya berharap, penyelesaian Tol Cisumdawu segera dipercepat seiring dengan mulai beroperasinya seksi I Cileunyi-Pamulihan. 

 

Kedua, kata dia, mulai berlangsungnya proses pembangunan Tol Getaci yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dimana Jasa Sarana bergabung dalam konsorsium beranggotakan Jasa Marga, PT Daya Mulia Turangga - PT Gama Group, PT PP (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Dilansir dari laman resmi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), jalan tol Getaci memiliki nilai investasi Rp 56,2 triliun dengan masa konsesi 40 tahun. “Tol Bandung-Cilacap juga sudah mulai digelar tahun ini. Kami menjadi bagian dari badan usaha jalan tol. Target awal pembangunan mulai dari Bandung sampai Tasikmalaya, kita optimis karena pemerintah sudah memprioritaskan proyek ini,” paparnya.

Selain tol, pihaknya juga mendapatkan penugasan untuk menggelar pembebasan lahan dan penyusunan details engineering design (DED) Jalan Tengah Selatan yang sudah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan. “Kita persiapan untuk pembangunan JTS, tugas Jasa Sarana membebaskan lahan dan menyusun DED, belum masuk ke konstruksi,” katanya.

Kemudian, proyek yang tak kalah pentingnya adalah pengoperasian Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Nambo, Bogor. Nambo yang bakal mengelola sampah di Bogor Raya dan Tanggerang Selatan tersebut ditargetkan bisa beroperasi pada 2022 ini. “Target kami semester 1 2022 sudah bisa beroperasi sebagian, nanti full-nya di akhir tahun,” katanya.

Hanif menilai, percepatan pembangunan infrastruktur tersebut sudah ditunggu masyarakat. Menurutnya masyarakat berharap urusan sampah segera tuntas, lalu penyelesaian Tol Cisumdawu dan pembangunan Getaci. 

“Masyarakat antusiasmenya tinggi untuk penyelesaian proyek-proyek itu. Berbagai kesiapan sudah kami tempuh baik dari segi alternatif skema bisnis, pembiayaan dan penentuan partner yang akan bekerjasama tentu saja terus dilakukan berdasarkan kaidah Manajemen Risiko dan Good Corporate Governance yang berlaku," paparnya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement