Kamis 04 May 2023 12:13 WIB

Anwar Abbas kepada Thomas Djamaluddin: Kritik Harus Objektif dan Rasional

Masyarakat yang sampaikan kritik harus mempergunakan kalimat yang baik dan terpilih.

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Agus Yulianto
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas
Foto: Republika
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengkritik memang diperlukan demi kemajuan bangsa dan negara. Namun, kritik itu harus dilakukan secara objektif dan rasional.

Demikian ditegaskan Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menanggapi keluhan Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, yang mengkritik wujudul hilal dan ego organisasi Muhammadiyah malah dianggap menyerang. 

Baca Juga

Buya Anwar mengatakan, kritik sangat diperlukan ketika kita bicara tentang bangsa dan negara. "Karena kalau kita bicara tentang bangsa dan negara maka berarti kita bicara tentang kepentingan orang banyak yang kita sebut dengan rakyat," ujar dia kepada Republika.co.id, Kamis (4/5/2023).

Agar tugas dan tujuan dari negara bisa berjalan dengan baik sesuai dengan falsafah dan hukum dasar yang berlaku di negara ini, kebijakan dan tindakan yang dibuat dan dilakukan oleh pemerintah perlu dikritik. Sehingga, pemerintah mengetahui kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam kebijakan dan implementasi yang telah dibuat dan dilakukannya.

 

"Diharapkan dengan kehadiran kritik tersebut isi dan pelaksanaan dari kebijakan tersebut akan semakin baik sehingga diharapkan, pemerintah akan benar-benar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya untuk melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan rakyat," ucap dia.

Buya Anwar berharap, hubungan baik antara pemerintah dan rakyat harus dibangun dan terbangun. Begitu pula bagi pemerintah jangan hanya membela kepentingan segelintir orang atau oligarki, tapi dia harus membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat banyak.

Supaya hal demikian bisa tercipta, menurut dia, maka pihak pemerintah harus terbuka dan membuka diri untuk dikritik. "Tetapi anggota masyarakat yang akan menyampaikan kritik juga harus bersifat objektif dan rasional serta mempergunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang baik serta terpilih," ujar dia.

Hal ini perlu kita tegakkan supaya perjalanan hidup dan kehidupan kita sebagai bangsa kedepan akan semakin lebih baik lagi karena semua pihak merasa terlibat serta merasa senang dan dihormati.

Sebelumnya, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, mempertanyakan upaya hukum yang terus dilakukan Muhammadiyah menyoal kritik soal wujudul hilal (WH). Dia meminta, ihwal mempersoalkan kritik yang ada, Muhammadiyah sebaiknya kembali memertimbangkan kejadian-kejadian sebelumnya.

“Muhammadiyah yang saya hormati karena semangat tajdid akan mencatatkan dalam sejarah sebagai organisasi pembungkam kritik? Semoga masih ada akal sehat untuk mempertimbangkannya,” kata Thomas kepada Republika.co.id, Rabu (3/5/2023).

Thomas mengeluhkan, kritik terhadap wujudul hilal dan ego organisasi Muhammadiyah malah dianggap menyerang. Padahal, dia menjelaskan, kritik yang dibangun pada awalnya bukan berdasarkan kebencian, melainkan mendorong dialog bersama ormas keagamaan demi menyatukan umat saat berlebaran. Hal itu, disebutnya sebagai tataran ijtihad ilmiah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement