Senin 07 Aug 2023 13:49 WIB

WJIS Tahun Ini Tawarkan 11 Proyek Senilai Rp 70 Triliun

Salah satu kendala menggencarkan investasi adalah kurangnya informasi ke investor.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Seminar Jabar Punya Informasi (Japri) bertajuk West Java Investment Summit 2023
Foto: Republika/Arie Lukihardianti
Seminar Jabar Punya Informasi (Japri) bertajuk West Java Investment Summit 2023

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pempriv Jabar dan Bank Indonesia akan kembali berkolaborasi menggelar West Java Investment Summit (WJIS) 2023 pada Rabu (9/8/2023). Ada 11 proyek yang siap ditawarkan dengan nilai lebih dari Rp70 triliun pada investor dalam negeri maupun asing.

Menurut Kepala Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu  (DPMPTSP) Jabar, Nining Yulistiani, 11 project yang ditawarkan tersebut berasal dari berbagai institusi. Yakni, baik pemerintah, BUMN, BUMD dan swasta. Berdasarkan pengalaman WJIS sebelumnya, peminat investasi di Jabar meliputi Asia, Eropa dan Amerika dengan berbagai lini.

Misalnya, kata Nining, Timur Tengah, lebih banyak renewable energy. Kawasan Asia, Jepang, Korea Selatan, Singapura dan China mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. 

"Tidak hanya electric vehicle (EV), tapi komponen dan baterainya, ingin bangun dalam suatu ekosistem. Di Jawa Barat  diminati karena ekosistem sudah terbangun," ujar Nining dalam Jabar Punya Informasi (Japri) bertajuk West Java Investment Summit 2023 'Invest In Sustainable Growth' di Gedung Sate, Senin (7/8/2023).

 

Nining menjelaskan, 11 proyek yang ditawarkan sudah dipastikan lengkap. Yakni, baik dari pengkajian maupun detail engineering design (DED), sehingga tinggal dijalankan oleh investor. Proyek tersebut, tersebar di beberapa daerah Jawa Barat, salah satunya Kawasan Rebana.

"Tersebar di Jawa Barat, di Kawasan Rebana kita ada. Termasuk pabrik ban pesawat terbang, itu di Majalengka. Kemudian kawasan Karawang, Bekasi ada di kawasan industri. Kita lihat di semua lokasi," katanya.

Salah satu kendala dalam menggencarkan investasi, kata dia, adalah kurangnya informasi kepada para investor. Maka dari itu Pemprov Jabar kata dia, selalu berupaya melakukan promosi, menawarkan potensi untuk dikembangkan.

Nining berharap, mampu menyerap tenaga kerja secara optimal di Jawa Barat. Contohnya, dalam lima tahun terakhir telah masuk investasi sekitar Rp 658 triliun. Nilai tersebut nyatanya mampu menyerap 653 ribu tenaga kerja.

"Ini sebanding Rp1 triliun, 1050 orang reratanya. Valid datanya. Kami optimis bila kita teruskan mekanisme investasi yang dibangun selama ini, akan meningkatkan tenaga kerja," katanya.

Di tempat yang sama, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Bambang Pramono mengatakan, semua pihak harus membangun kemitraan dalam pengembangan pendidikan dan vokasi. Hal ini telah terbukti, salah satunya di Jababeka. 

"Lulusan salah satu sekolah di kawasan tersebut diserap semua oleh perusahaan," katanya.

Bambang meyakini, dengan banyaknya investor dan tenaga kerja yang terserap. Maka secara tidak langsung akan mengendalikan inflasi, karena daya beli masyarakat terjaga. Dia berharap, gelaran WJIS ini dapat menangguk investasi sebanyak-banyaknya di Jawa Barat.

"Itu yang langsung (penyerapan siswa SMK oleh perusahaan di Jababeka). Tidak langsung banyak. Nilai tukar yang stabil berdampak dengan inflasi. Ketika inflasi terjaga, masyarakat daya beli terjaga," katanya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement