Kamis 09 Nov 2023 13:51 WIB

Hasil Autopsi dan Misteri Mayat Warga Depok Terikat Lakban Dalam Mobil di Sukabumi

Waktu kematian korban diperkirakan lebih dari 24 jam.

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Irfan Fitrat
RSUD R Syamsudin SH, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
Foto: riga nurul iman
RSUD R Syamsudin SH, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI — Autopsi dilakukan terhadap jasad warga asal Depok yang ditemukan meninggal dalam mobil di halaman minimarket wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kematian korban masih misteri.

Mayat korban ditemukan dalam mobil yang terparkir di halaman minimarket wilayah Desa Bencoy, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, pada Selasa (7/11/2023) malam. Saat ditemukan, kondisi mayat dilaporkan dalam keadaan terikat lakban pada bagian kedua kaki, kedua tangan, dan wajahnya.

Baca Juga

Identitas korban sudah diketahui, yaitu pria berinisial S (55 tahun), warga Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat. Korban dikabarkan merupakan pengemudi (driver) mobil online.

Setelah ditemukan, jasad korban langsung diautopsi di RSUD R Syamsudin SH, Kota Sukabumi. Dokter Forensik RSUD R Syamsudin SH, Nurul Aida Fathia, menjelaskan, berdasarkan hasil autopsi, diperkirakan waktu kematian korban lebih dari 24 jam karena pada jasadnya sudah terjadi pembusukan, di mana warga kulit berubah kehijauan dan lama-lama bisa menghitam.

 

Menurut Aida, saat autopsi tidak ditemukan adanya luka terbuka terbuka pada jasad korban. “Luka-luka yang signifikan, seperti luka terbuka atau luka lecet seperti itu, tidak ditemukan,” ujar Aida kepada wartawan, Rabu (8/11/2023).

Namun, Aida mengatakan, ada kemungkinan luka pada jasad korban tersamarkan oleh pembusukan. Dari hasil autopsi, menurut dia, yang terlihat jelas adalah korban kekurangan oksigen. Ia mengatakan, diduga sebelum meninggal korban berusaha menarik napas secara berlebih.

Menurut Aida, kekurangan napas bukan bukan penyebab kematiannya, melainkan proses. “Prosesnya bisa macam-macam, seperti tertutup mulut, hidung, leher, dada, atau penyakit,” kata dia.

Kemungkinan penyebab kematian disebut bisa karena kekurangan oksigen akibat jalan pernapasannya ada yang tertutup atau penyakit pada organ utama penunjang kehidupan, seperti paru-paru atau jantung. 

Aida mengatakan, tim forensik sudah mengambil sampel organ utama penunjang kehidupan, yakni paru-paru, jantung, dan otak, untuk diperiksa di laboratorium. “Hasil lab, biasanya kalau sudah ada pembusukan lumayan agak lama, sekitar dua mingguan hasilnya baru keluar,” kata Aida.

Berdasarkan hasil autopsi, Aida mengatakan, penyebab kematian korban belum diketahui apakah karena adanya penyakit atau hal lain. “Untuk detailnya masih harus diselidiki oleh penyidik (kepolisian),” kata Aida. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement