Ahad 03 Dec 2023 07:43 WIB

Jabar Bangun 334 Satelit Penangkap Sinyal Internet Atasi Blank Spot

1.445 Badan Usaha Milik Desa telah mendapatkan pendampingan pemasaran digital.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Seorang teknisi beraktivitas di ruang kontrol satelit (Satelite Control Room). (Ilustrasi)
Foto: Antara/Ismar Patrizki
Seorang teknisi beraktivitas di ruang kontrol satelit (Satelite Control Room). (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemprov Jabar terus berupaya untuk mengatasi mengentaskan desa blank spot internet. Hal ini dinilai penting untuk membangun infrastruktur telekomunikasi yang andal dan luas, yakni dengan berkolaborasi multi-pihak dilakukan dengan membuka pintu kerja sama seluas luasnya.

Menurut Dewan Eksekutif Tim Akselerasi Pembangunan Provinsi Jawa Barat periode Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Juwanda, pada 2019, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan BAKTI Kominfo sebuah badan layanan umum di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika yang memiliki program pengentasan desa blank spot internet. 

"Dari kerja sama tersebut, terbangun 334 VSAT (very small aperture terminal) atau sebuah satelit penangkap sinyal internet yang dapat dimanfaatkan secara gratis oleh warga desa," ujar Juwanda kepada wartawan, akhir pekan ini.

Pada 2021, kata Juwanda, terjalin kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan perusahaan telekomunikasi yaitu Lintasarta, selama 2 (dua) tahun berhasil membangun 64 tower internet yang tersebar di 18 Kabupaten se-Jawa Barat. 

Menurut dia, untuk memastikan bahwa internet yang telah dibangun dapat bermanfaat bagi desa dan masyarakat, maka dibentuklah Badan Kerja Sama Antar-Desa (BKAD) dan BUMDesma (Badan Usama Milik Desa Bersama), yang bertujuan agar dapat mengelola pendistribusian internet kepada masyarakat.

Selain itu, kata dia, dilakukan pula program literasi digital berupa pelatihan dan workshop dengan membawa materi terkait keterampilan dasar penggunaan internet, keamanan online, dan potensi ekonomi yang terkait dengan internet. 

Hal ini, kata dia, akan meningkatkan kesadaran dan memotivasi masyarakat untuk mengadopsi teknologi internet. Program Literasi digital ini simultan dilakukan terus-menerus seiring pembangunan infrastruktur internet. Serta, melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat desa, aparat desa, komunitas, akademisi, pelaku usaha dan instansi pemerintah. 

"Hasilnya kader-kader literasi digital di desa mulai terbentuk dan saling membantu, menjaga dan mengevaluasi untuk tujuan keberlanjutan pembangunan infrastruktur," katanya.

Tahap pertama, membangun infrastruktur internet melalui Desa Digital 1.0. Tujuannya, untuk mengurangi desa blank spot, sehingga menipiskan kesenjangan digital di Jawa Barat (smart infrastructure).

Tahap kedua, meliterasi warga desa melalui Desa Digital 2.0. Membantu masyarakat desa dalam menggunakan internet untuk berkomunikasi dan mengakses informasi (smartsociety).

Saat ini, kata dia, 93 persen desa di Jawa Barat sudah mendapatkan akses internet. Bahkan, petani sudah berdampingan dengan Teknologi IoT. Yakni, melalui program Desa digital, 93 persen desa di Jawa Barat kini telah memiliki akses internet, membuka peluang baru dalam berbagai aspek kehidupan di pedesaan. 

Selain itu, kata dia, 1.445 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) telah mendapatkan pendampingan pemasaran digital. Melalui laman Pahlawan Desa, yang mengintegrasikan beberapa marketplace, proses pemasaran produk usaha desa menjadi lebih mudah dan efisien.

Program Desa Digital juga, kata dia, telah melahirkan 1.452 talenta digital baru melalui pelatihan Candradimuka Jabar Coding Camp (CJCC). Para peserta CJCC, yang mayoritas adalah anak muda potensial, telah dilatih dalam bidang mobile development, web front-end, web back-end, dan digital marketing selama satu hingga lima bulan. 

"Banyak dari mereka telah berhasil mendapatkan pekerjaan di sektor pemerintahan, startup, bank, dan bahkan membangun perusahaan konsultan IT," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement