Kamis 07 Dec 2023 15:13 WIB

Cerita Warga Garut Tertipu Tawaran Umroh, Berharap Uang Kembali

Dikabarkan ada 22 orang yang menjadi korban penipuan umroh.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Irfan Fitrat
Polres Garut melakukan konferensi pers terkait kasus penipuan bermodus berangkat umroh di Markas Polres Garut, Jawa Barat, Kamis (7/12/2023).
Foto: Dok Republika
Polres Garut melakukan konferensi pers terkait kasus penipuan bermodus berangkat umroh di Markas Polres Garut, Jawa Barat, Kamis (7/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT — Sebanyak 22 warga di Desa Garumukti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dikabarkan menjadi korban penipuan tawaran berangkat umroh. Salah satunya Ede Sukmana (47 tahun).

Ede menjelaskan, awalnya mendapat tawaran dari pelaku berinisial D untuk berangkat umroh pada Juni 2023. Ketika itu, pelaku menawarkan jatah berangkat umroh dengan biaya murah. Potongan harga untuk berangkat umroh juga akan diberikan kepada ustaz atau guru mengaji.

Baca Juga

“Setelah itu saya tanya ke ustaz, dia mau berangkat sama istrinya. Mereka kemudian berhubungan kontak dengan pelaku,” kata dia, saat dikonfirmasi Republika.co.id, Kamis (7/12/2023).

Menurut Ede, para calon jamaah yang hendak berangkat diminta mencari warga lain yang mau ikut pergi umroh. Hingga akhirnya terkumpul sekitar 20 orang. Puluhan warga itu disebut langsung mengirimkan biaya keberangkatan umroh kepada pelaku, tanpa perantara. 

 

Pelaku menjanjikan para calon jamaah akan berangkat pada 18 November 2023. Kemudian, pada Oktober 2023, menurut Ede, puluhan calon jamaah melakukan manasik di halaman Kantor Desa Garumukti. Namun, ketika itu pelaku disebut memberi tahu bahwa keberangkatan umroh diundur menjadi jadi tanggal 22 November 2023.

“Terus, 13 November kami manasik lagi. Kami kembali bertanya terkait keberangkatan. Katanya diundur jadi tanggal 24 November,” kata Ede.

Ede menjelaskan, pada 24 November 2023, pelaku akhirnya mengirimkan bus ke desa untuk berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Para calon jamaah umroh itu lantas berangkat dan menginap di sebuah hotel di sekitar Bandara Soekarno-Hatta semalam. Namun, ketika itu tiket dan visa belum jelas.

“Akhirnya calon jamaah mempertanyakan. Karena banyak alasan, semua kumpul. Ternyata dia mengatakan tiket dan visa belum diurus. Padahal sebagian calon jamaah sudah membayar lunas,” ujar Ede.

Menurut Ede, para calon jamaah akhirnya memutuskan untuk kembali ke Kabupaten Garut. Pasalnya, tak kunjung ada kejelasan dari pelaku terkait waktu keberangkatan. Para korban melaporkan kasus itu ke Polres Garut.

Ede berharap uang yang telah dibayarkannya bisa kembali dengan utuh. Pasalnya, ia benar-benar ingin pergi umroh ke tanah suci. “Saya pribadi ikut juga. Saya masuk uang untuk tiga orang itu sekitar Rp 58 juta,” kata dia.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement