Jumat 02 Jan 2026 14:17 WIB

Kekerasan terhadap Perempuan di Indramayu Seperti Fenomena Gunung Es

Banyak korban yang enggan melapor karena faktor ketakutan hingga stigma sosial.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Mas Alamil Huda
Peserta aksi membawa poster saat mengikuti Aksi Hari Perempuan Sedunia di Jakarta, Sabtu (8/3/2025). Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia menyuarakan tentang kesetaraan gender, pemenuhan hak-hak perempuan hingga mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan.
Foto: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin
Peserta aksi membawa poster saat mengikuti Aksi Hari Perempuan Sedunia di Jakarta, Sabtu (8/3/2025). Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia menyuarakan tentang kesetaraan gender, pemenuhan hak-hak perempuan hingga mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Indramayu disebut seperti fenomena gunung es. Pasalnya, masih banyak kasus yang tidak terlaporkan.

Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu bersama Koalisi Perempuan Indonesia menyebutkan, ada 12 kasus kekerasan terhadap perempuan yang mereka tangani sepanjang 2025.

Baca Juga

Sedangkan data yang dimiliki oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Indramayu tercatat ada 37 kasus.

Ketua Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu, Yuyun Khoerunnisa menjelaskan, hal tersebut menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan masih terus terjadi. Namun, ia menilai penanganannya belum optimal.

“Adanya perbedaan jumlah data ini juga mencerminkan masih lemahnya sistem pendataan, keterbukaan informasi, serta akses pelaporan yang aman dan mudah bagi korban,” kata Yuyun, dalam catatan akhir tahunnya, kemarin.

Ia menilai, banyak korban yang enggan melapor karena faktor ketakutan, stigma sosial, tekanan keluarga, hingga rendahnya kepercayaan terhadap sistem layanan yang tersedia. Karenanya, kasus yang dilaporkan masih sebatas yang baru muncul di permukaan.

Sedangkan kasus yang belum terungkap, menurutnya masih banyak. Bahkan, jumlahnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Selain kekerasan, persoalan kesehatan dan perlindungan sosial perempuan juga menjadi sorotan. Salah satunya yang menyangkut Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Indramayu, yang tercatat ada 21 kasus berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu tahun 2025.

Sekcab Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Indramayu, Laely Khiyaroh, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu tahun 2023, jumlah penduduk Indramayu mencapai 1.894.325 jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 943.362 jiwa merupakan perempuan.

“Dengan komposisi tersebut, perlindungan terhadap perempuan seharusnya menjadi prioritas utama dalam kebijakan dan pembangunan daerah,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement