Kamis 20 Aug 2026 13:52 WIB

Kala Waduk Saguling Mengering, Lalu Berubah Jadi Area Pertanian

Kondisi perairan yang mengering itu dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam.

Rep: Ferry Bangkit Rizki/ Red: Mas Alamil Huda
Encek Supriadi (50 tahun) memanfaatkan surutnya Waduk Saguling untuk bertani.
Foto: Ferry Bangkit Rizky/Republika
Encek Supriadi (50 tahun) memanfaatkan surutnya Waduk Saguling untuk bertani.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino menyebabkan volume air Waduk Saguling di Desa Bojonghaleang, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat menyusut drastis. Kondisi perairan yang mengering itu dimanfaatkan warga sebagai lahan untuk bercocok tanam.

Berdasarkan pantauan Republika pada Kamis (20/8/2026), Waduk Saguling yang berada di Blok Sungai Cireundeu itu sudah menjadi daratan hingga ke bagian tengah dan dijadikan lahan pertanian dadakan. Warga sekitar menanam ragam jenis palawija seperti cabai, terong, mentimun, pakcoy dan lainnya di lahan kering.

Baca Juga

Encek Supriadi (50 tahun) adalah salah satu warga yang memanfaatkan surutnya Waduk Saguling untuk bertani. Siang itu, ia sedang menanam benih cabai dan terong di area lahan yang sudah mengering. Encek lebih memilih tanaman palawija yang lebih cepat masa panennya dan cocok di musim kemarau.

"Tahun ini mau nanam cabe, terong, mentimun sama pakcoy. Ada yang udah ditanam, ada yang baru tanam juga," tutur Encek.

Dirinya mengatakan, memanfaatkan kawasan Waduk Saguling untuk bertani merupakan rutinitas dikala permukaan airnya menyusut. Menurunya debit air itu menurut Encek sudah terjadi sejak empat bulan lalu tepat ketika musim kemarau panjang tiba yang diserta fenomena El Nino. Kondisi musim kemarau kali ini menurut Encek sampa seperti yang terjadi di tahun 2023.

"Kalau kemaraunya udah 4 bulanan. Ini sama kaya tahun 2023, 6-7 bulan sampai surut. Sekarang juga sama sampe kelihatan daratan di bagian tengahnya. Kalau tahun kemarin enggak kaya gini," ungkap Encek.

Demi memanfaatkan surutnya permukaan air Waduk Saguling, Encek rela meninggalkan sejenak aktivitasnya berjualan coet di Lampung. Ia pun tentunya harus mengeluarkan modal dari mulai pengadaan benih, biaya pemeliharaan seperti pupuk hingga membayar buruh tani.

"Biasanya saya jualan coet di Lampung, tapi kalau air di Saguling lagi surut pulang dulu buat nanam sayuran. Kalau udah enggak surut, balik lagi jualan," ujar dia.

Pengorbanan Encek meninggalkan sementara aktivitas jualannya berbuah manis lantaran hasil panen area pertanian musiman itu cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jika sedang bagus, hasil panen cabainya bisa mencapai Rp 20-30 juta.

Namun hasil itu belum dipotong biaya produksi dari mulai pengadaan, pemeliharaan, dan buruh tani yang lumayan besar. Apalagi bercocok tanam di musim kemarau ini menurut Encek membutuhkan pemeliharaan yang cukup besar.

"Kalau lagi bagus cabai bisa sampe 70 kg, mentimun bisa sampe 8 kuintal lebih, pakcoy 50 kg sama terong bisa dapat 2 kuintal kalau lagi bagus," kata Encek.

Berita Lainnya

Rekomendasi