Sabtu 29 Aug 2026 15:12 WIB

Demi Menuntut Ilmu, Anak-Anak SD Terpaksa Naik Rakit Bambu ke Sekolah

Jika naik rakit jarak ke sekolah hanya 248 meter daripada memutar jadi 2,28 kilometer

Rep: Ferry Bangkit Rizki/ Red: Karta Raharja Ucu
Foto: Siswa SDN Budiharja di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat menggunakan rakit bambu untuk bersekolah.
Foto: Ferry Bangkit Rizki/Republika
Foto: Siswa SDN Budiharja di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat menggunakan rakit bambu untuk bersekolah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Perjuangan siswa SDN Budiharja di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat untuk menuntut ilmu tak main-main. Mereka harus bertaruh nyawa menyebrangi perairan Waduk Saguling menggunakan rakit bambu demi bersekolah.

Kamis (28/8/2026) siang selepas pulang sekolah, sejumlah siswa yang menyusuri jalan setapak menuju tepian Waduk Saguling yang debitnya menyusut akibat kemarau. Di sana, sudah ada rakit bambu yang sudah lapuk menunggu untuk menjemput mereka pulang ke rumahnya di Kampung Sadang, RT 05, RW 02 Desa Budiharja dari SDN Budiharja berada di Kampung Gombong, RT 03, RW 05 Desa Budiharja.

Baca Juga

Di atas rakit bambu itu sudah bersiap seorang pria paruh baya untuk menyebrangkan bocah-bocah itu dengan sukarela. Menggunakan seutas tali tambang yang membentang dari Kampung Sadang ke Kampung Gombong, rakit itu mulai dikerek. Sementara itu sejumlah siswa duduk manis di bawah sinar matahari yang begitu terik siang itu.

"Kalau aku mulai naik rakit itu dari kelas 4 hampir setiap hari soalnya lebih cepet aja dari rumah ke sekolah," tutur Imam Permana (12 tahun), salah seorang siswa.

Setiap hari sekolah, pukul 06.00 WIB lebih,  Imam dan teman-temannya sudah berangkat dari rumah menuji tepian Waduk Saguling. Para siswa itu memilih menyebrangi Waduk Saguling menggunakan rakit karena lebih efisien dan cepat karena pukul 06.30 WIB mereka harus sudah berada di sekolah.

Jaraknya hanya sekitar 248 meter dari pemukiman menuju sekolah. Sedangkan menggunakan jalur darat jaraknya harus memutar sekitar 2,28 kilometer. Canda dan tawa selalu menjadi teman kala mereka menaiki rakit bambu menuju sekolah dan sebaliknya.

"Kalau muter lumayan jauh soalnya udah pernah dari kelas 1. Tapi sekarang pake rakit dulu karena lebih cepet. Enggak takut karena udah biasa," ujar Imam.

Keberadaan rakit bambu itupun sangat disyukuri Santi Nur Setiani, orang tua siswa. Transportasi air tradisional berbahan bambu itu setiap hari mengantar anaknya pergi dan pulang sekolah demi mengenyam pendidikan di sekolah negeri.

"Biasanya jam 6 lebih udah berangkat dari rumah. Kalau muter jauh jalannya, soalnnya enggak ada motor juga. Jadi ke sini lebih cepet," ujar dia.

Resah sudah pasti dirasakan Santi melepas keberangkatan dan menunggu kepulangan anak keduanya itu dari SDN Buniharja. Sebab perairan yang harus disebrangi anaknya menggunakan rakit bambu itu tentunya cukup dalam. Sehingga harapannya kelak nanti ada jembatan yang menyambungkan kampungnya dengan sekolah.

"Iya khawatiran takutnya terpleset. Kalau musim hujan, dia suka main-main, bercanda sama teman-temannya kalau naik rakit. Pengennya sih ada jembatan," ujar Santi.

Berita Lainnya

Rekomendasi