Kamis 25 May 2023 15:48 WIB

Kota Cirebon Petakan Titik Rawan Kekeringan dan Karhutla

Saat ini suhu udara cukup tinggi dan berpotensi menjadi penyebab terjadinya karhutla.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto
Cuaca panas (ilustrasi)
Foto: greatdaymoving.com
Cuaca panas (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon memetakan daerah-daerah yang rawan kekeringan maupun kebakaran hutan (karhutla). Hal itu sebagai acuan kesiapsiagaan bencana pada musim kemarau tahun ini.

Kepala Kantor BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo, menjelaskan, pemetaan dilakukan berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir ini. Untuk karhutla, dari 22 kelurahan di Kota Cirebon, terdapat 13 kelurahan yang pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan. Yakni, Kelurahan Argasunya, Harjamukti, Kalijaga, Larangan, Kesenden, Sukapura, Karyamulya, Drajat, Pekiringan, Kesambi, Panjunan, Pegambiran dan Sunyaragi.

‘’Karhutla umumnya disebabkan oleh adanya percikan api dari pembakaran sampah atau puntung rokok yang dibuang sembarangan, sehingga merambat ke tanaman kering di sekitar lahan kosong,’’ kata Andi, Kamis (25/5/2023).

Sedangkan untuk kekeringan, sejak kurun waktu 2017, ada satu kelurahan yang pernah mengalami kekeringan dari 22 kelurahan yang ada di Kota Cirebon. Yakni, Kelurahan Argasunya. Kekeringan yang terjadi di Kota Cirebon itu tergolong kekeringan hidrologis.

 

‘’Terjadi ketika pasokan air tanah dan air permukaan berkurang,” tutur Andi.

Andi pun meminta, masyarakat untuk mewaspadai terjadinya kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau ini. Apalagi, saat ini suhu udara cukup tinggi.

Hal senada sebelumnya juga disampaikan Plt Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati, Majalengka, Ahmad Faa Iziyn.

Pria yang biasa disapa Faiz itu juga mengimbau, masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrim, berupa suhu udara tinggi, angin kencang, kelembaban udara rendah maupun kekeringan. Masyarakat pun diminta agar hemat air.

Di sisi lain, masyarakat juga harus minum air yang cukup untuk mencegah dehidrasi, gunakan masker dan pelembab kulit serta tidak membakar sembarangan karena dikhawatirkan bisa memicu terjadinya kebakaran.

Faiz mengatakan, puncak musim kemarau di Wilayah Ciayumajakuning (Kota/Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan)  diprakirakan terjadi pada Agustus mendatang. Dia menyebutkan, suhu udara yang terasa panas saat ini akan terus meningkat hingga memasuki puncak musim kemarau.

‘’Suhu udara pada puncak musim kemarau diprakirakan mencapai 36 - 38 C,’’ kata Faiz. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Apakah internet dan teknologi digital membantu Kamu dalam menjalankan bisnis UMKM?

  • Ya, Sangat Membantu.
  • Ya, Cukup Membantu
  • Tidak
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement