Selasa 29 Aug 2023 21:19 WIB

Agustus, Bulog Cirebon Gelontorkan 1.800 Ton Beras SPHP

Penyaluran beras disebut dilakukan melalui pengecer.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Beras Bulog.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
(ILUSTRASI) Beras Bulog.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Bulog Cirebon mengintensifkan penyaluran beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada Agustus ini. Penyaluran beras dilakukan langsung melalui pengecer.

Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Cirebon Imam Firdaus Jamal menjelaskan, penyaluran beras program SPHP itu sudah dilakukan sejak Januari 2023. Hingga Agustus ini, kata dia, beras yang digelontorkan mencapai 24.600 ton.

Baca Juga

Penggelontoran beras program SPHP disebut diintensifkan pada Agustus ini. Di mana beras yang disalurkan mencapai 1.800 ton. “Penyaluran (beras SPHP) ini dilakukan di seluruh wilayah kerja kami,” ujar Imam, Selasa (29/8/2023).

Wilayah kerja Bulog Cirebon meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Menurut Imam, beras program SPHP ini disalurkan melalui pengecer, yaitu pedagang di pasar maupun melalui Rumah Pangan Kita (RPK).

 

Ke depan, Imam mengatakan, alokasi beras untuk pedagang di pasar juga akan diperbanyak. Dengan demikian, masyarakat memiliki alternatif pilihan beras untuk dikonsumsi. “Untuk beras yang dijualnya beras jenis medium,” kata Imam.

Beras tersebut harga tebus di gudangnya sebesar Rp 8.300 per kilogram. Untuk harga eceran tertingginya (HET) Rp 10.900 per kilogram. Namun, pedagang diimbau untuk menjual beras seharga Rp 9.450 per kilogram.

Di Kabupaten Cirebon, harga gabah di tingkat petani saat ini dikabarkan masih tinggi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi harga beras di pasaran. 

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon Tasrip Abu Bakar mengatakan, saat ini harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani berkisar Rp 6.500-6.800 per kilogram.

Di tingkat penggilingan harganya bisa mencapai sekitar Rp 7.200 per kilogram. “Kalau tidak ada musim tanam gadu dua, harga gabah pada Oktober sampai Desember bisa lebih tinggi lagi,” kata Tasrip.

Untuk meredam dampaknya terhadap harga beras, Tasrip mendorong Bulog menggelontorkan beras ke pasaran.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement