Senin 06 Nov 2023 14:53 WIB

DPRD Jabar: Sempitnya Jalan Akses ke Stasiun KCJB Tegalluar Jadi PR Kepala Daerah

Anggota DPRD Jabar meyakini bantuan dari pusat percepat persoalan jalan Tegalluar

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Penumpang bersiap memasuki gerbong kereta cepat Whoosh di Stasiun Halim, Jakarta, Jumat (13/10/2023). Whoosh Experience Program terus mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Setelah sukses dengan tahap pertama pada 3-7 Oktober 2023 dan tahap 2 pada 8-10 Oktober 2023 dengan total penumpang mencapai 18 ribu orang, KCIC kembali membuka kesempatan kepada masyarakat yang ingin merasakan pengalaman perjalanan Jakarta-Bandung dengan Kereta Cepat pertama di Asia Tenggara secara gratis untuk periode 11-16 Oktober 2023. Untuk rute Jakarta-Bandung, keberangkatan dari stasiun Halim kini tersedia pada pukul 8.45, 10.20, 15.35, dan 17.35. Untuk rute Bandung-Jakarta, keberangkatan dari stasiun Tegalluar akan tersedia pada pukul 8.45, 10.20, 15.35, dan 17.35.
Foto: Republika/Prayogi
Penumpang bersiap memasuki gerbong kereta cepat Whoosh di Stasiun Halim, Jakarta, Jumat (13/10/2023). Whoosh Experience Program terus mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Setelah sukses dengan tahap pertama pada 3-7 Oktober 2023 dan tahap 2 pada 8-10 Oktober 2023 dengan total penumpang mencapai 18 ribu orang, KCIC kembali membuka kesempatan kepada masyarakat yang ingin merasakan pengalaman perjalanan Jakarta-Bandung dengan Kereta Cepat pertama di Asia Tenggara secara gratis untuk periode 11-16 Oktober 2023. Untuk rute Jakarta-Bandung, keberangkatan dari stasiun Halim kini tersedia pada pukul 8.45, 10.20, 15.35, dan 17.35. Untuk rute Bandung-Jakarta, keberangkatan dari stasiun Tegalluar akan tersedia pada pukul 8.45, 10.20, 15.35, dan 17.35.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar), Daddy Rohanady, mengatakan, hingga saat ini jasa layanan transportasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) belum terintegrasi dengan moda transportasi. Daddy melihat, ada beberapa hal yang menyebabkan belum terintegrasinya moda transportasi tersebut.

Yakni, kata Daddy, selepas dari TOD Tegalluar, jalur yang dilalui menuju arah Gedung Sate memang masih banyak yang sempit. Sehingga, laju kendaraan pun pasti lebih lambat. 

"Sempitnya jalur dan kemacetan tersebut menjadi pekerjaan rumah (PR) berikutnya bagi Pj Wali Kota Bandung Bambang Tirtojuliono yang juga merupakan kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat," ujar Daddy kepada Republika.co.id, Senin (6/11/2023).

Selain itu, kata dia, masalah tersebut juga merupakan PR bagi Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin. Tentu PR itu tidak hanya untuk kedua eksekutif tersebut. Hal itu juga menjadi PR untuk kebijakan yang dihasilkan bersama DPRD Kota Bandung dan DPRD Provinsi Jawa Barat. 

 

"Bahkan, akan menjadi lebih elok lagi jika pemerintah pusat juga turut mengulurkan tangan untuk menyelesaikan masalahnya," katanya.

Daddy berharap, semua pihak berkenan mengikhtiarkan solusi atas masalah yang ada di Provinsi Jabar itu. Agar, paradoks yang ada tidak terjadi lagi. 

"Bukankah negara wajib mengurus dan mengikhtiarkan segala upaya untuk kesejahteraan rakyat?" katanya.

Daddy menegaskan, ada beberapa hal yang menyebabkan belum terintegrasinya moda transportasi tersebut. Yakni, selepas dari TOD Tegalluar, jalur yang dilalui menuju ke arah Gedung Sate memang masih banyak yang sempit. Sehingga, laju kendaraan pun pasti lebih lambat. 

Sebenarnya, kata dia, ada jalur pilihan melalui jalan tol. Namun, sebelum masuk tol, tetap saja harus mengular masuk ke kawasan kompleks perumahan Summarecon.

"Sebelum memasuki kawasan itu, lagi-lagi jalurnya masih cukup sempit," katanya.

Menurutnya, jika jalur yang dipilih adalah masuk ke arah Jalan Soekarno-Hatta, bisa dipastikan jalur tersebut lebih macet lagi. Sebelum sampai ke Jalan Soekarno-Hatta saja, setelah keluar dari kawasan Summarecon, jalannya sudah mulai menyempit. 

"Belum lagi ketika kita berpapasan dengan para pengunjung Masjid Raya Al-Jabbar. Selain jalannya masih sempit, jalur ini sudah cukup padat penggunanya," ujarnya.

Selepas itu, kata dia, melalui Jalan Cimencrang bisa dipastikan tidak kalah macet. Jalan itu relatif  sempit, sedangkan kendraan yang melaluinya tidak pernah sepi.

Sejak diresmikannya Majid Raya Al-Jabbar, jalan Cimencrang memang semestinya sudah diperlebar mengingat volume kendaraan yang melewati jalur itu. 

Namun, kata dia, pembebasan lahan di wilayah perkotaan memang bukanlah hal yang mudah. Persoalan pembebasan lahan hampir selalu menjadi masalah klise di setiap kegiatan pembangunan. Padahal, jika Jalan Cimencrang sudah diperlebar, bisa dipastikan volume kendaraan ke dan dari Mesjid Raya Al-Jabbar maupun TOD Tegalluar akan menjadi lebih lancar. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement