Rabu 13 Dec 2023 20:59 WIB

Masih Kerap Banjir di Gedebage, Ini Rencana Solusi Pemkot Bandung

​​DSDABM Kota Bandung menyebut soal faktor kontur wilayah dan aliran sungai.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Irfan Fitrat
Warga mendorong kendaraannya yang mogok saat melintasi genangan banjir di sekitar pintu masuk Pasar Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (1/12/2023).
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Warga mendorong kendaraannya yang mogok saat melintasi genangan banjir di sekitar pintu masuk Pasar Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (1/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Banjir atau genangan air masih kerap muncul di kawasan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat, ketika turun hujan. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung masih mencari solusi untuk mengoptimalkan penanganan banjir di kawasan tersebut.

Menurut Penjabat (Pj) Wali Kota Bandung Bambang Tirtoyuliono, faktor penyebab banjir di Gedebage itu sebenarnya sudah teridentifikasi. “Permasalahan banjir di Gedebage itu sudah bisa diidentifikasi (penyebabnya) dan memang itu masalah multisektor. Makanya, rencananya Senin (18/12/2023) kita akan evaluasi kembali untuk penanganannya,” kata dia, seusai meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Gedebage, Kota Bandung, Rabu (13/12/2023).

Baca Juga

Bambang menyebut salah satu solusi yang diwacanakan adalah penambahan kolam retensi. Ia mengeklaim kolam retensi yang ada sejauh ini sudah menunjukkan dampak positif dalam penanganan banjir di kawasan Gedebage.

“Sudah ada (kolam retensi), tapi kan masih terjadi banjir. Walaupun yang biasanya tinggi (genangannya), sudah mulai berkurang, kan begitu ya. Artinya, masih diperlukan kolam retensi tambahan,” kata Bambang.

Menurut Bambang, Pemkot Bandung merencanakan pembangunan kolam retensi di sekitar Jalan Rumah Sakit. “Kita sedang coba cari tahu siapa pemilik tanahnya, apakah punya pemkot atau warga,” ujar dia.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung Didi Ruswandi menjelaskan, persoalan banjir di kawasan Gedebage itu dipengaruhi faktor kontur wilayah dan keberadaan dua aliran sungai besar. 

“Di sana ada dua sungai, yang kalau naik (debitnya), maka air akan turbulens. Sedangkan Cinambo itu konturnya lebih rendah, jadi gampang banjir. Nah, salah satu solusinya adalah pengadaan lokasi parkir air,” kata Didi.

Didi mengatakan, kolam retensi sebagai wadah parkir air selama ini sudah menunjukkan manfaatnya. Karena itu, dicanangkan akan ditambah. 

“Pengadaan kolam retensi sebelumnya itu kan sudah terlihat (manfaatnya) ya, banjir jadi lebih cepat surut. Tapi, yang masih jadi masalah itu yang di Cinambo karena belum ada kolam retensi di sana,” kata Didi.

Didi mengatakan, lahan yang ditargetkan menjadi lokasi kolam retensi baru itu memiliki luas sekitar 600 meter persegi. Menurut dia, kemungkinan pembuatan kolam retensi tersebut baru akan dibahas lebih lanjut pada 2024.

“Itu anggarannya belum, nanti kita akan rapat lagi. Tapi, ini rencana untuk tahun depan karena kita ingin selesaikan program yang sudah ada dulu,” kata Didi. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement