Ahad 31 Aug 2025 23:35 WIB

Desa Wisata, Motor Penggerak Ekonomi Desa yang Bisa Buka Lapangan Kerja dan Cegah Urbanisasi

Saat ini total ada 1.600 desa wisata di Jabar tapi yang sudah bagus sekitar 200

Desa Wisata Alamendah di Kabupaten Bandung
Foto: Dok Republika
Desa Wisata Alamendah di Kabupaten Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Setiap datang hari libur, apalagi libur panjang bagi warga Desa Alamendah Kecamatan Rancabali Ciwidey Kabupaten Bandung, menjadi masa yang sulit bagi warga untuk bepergian. Karena, baru saja keluar rumah ke jalan raya, warga sudah disambut oleh kemacetan panjang.

Hal ini terjadi, karena Kawasan Ciwidey, terkenal dengan banyak destinasi wisata yang indah. Oleh karena itu tak heran, kalau setiap hari libur atau libur panjang, berbagai akses ke lokasi wisata selalu diwarnai dengan antrean kendaraan cukup panjang. Kendaraan wisatawan harus antre, karena ruas jalan di Ciwidey banyak yang tak terlalu lebar.

Baca Juga

Bertahun-tahun, kondisi ini dialami oleh Wendiansyah bersama warga Desa Alamendah lainnya. Namun, semuanya berubah sejak 2019. Semua warga di Desa Alamendah, tak hanya menjadi penonton kemacetan kendaraan wisatawan yang akan berwisata ke daerahnya. Tapi, semua warga bisa merasakan terlibat langsung menjadi pelaku wisata. Bahkan, omzet desa wisata ini awalnya hanya puluhan juta dalam sebulan. Sekarang, sudah melesat mencapai miliaran.

"Dulu daerah kami sangat terdampak macetnya akses ke tempat wisata. Kalau libur mau berpergian kemana pun susah. Dengan adanya program desa wisata, sekarang warga bisa menjadi pelaku wisata," ujar Ketua Pengelola Desa Wisata, Wendinsyah kepada Republika.

Menurut Wendinsyah, masyarakat di daerahnya mayoritas berprofesi sebagai petani. Setelah ada desa wisata, semua warga jadi memiliki penghasilan dobel. Yakni, sebagai petani sekaligus pengelola wisata. Sehingga, warga memiliki penambahan penghasilan. Daya tarik wisata yang ditawarkan, adalah pertanian, peternakan, kesenian, wisata edukasi, tracking bersepedah dan lainnya.

"Potensi lainnya di desa wisata kami adalah ada agrowisata dan UMKM. Selain itu, ada rumah milik warga yang dijadikan homestay sekitar 43 sampai 45 homestay. Jadi, sebagian dari masyarakat menjadi pelaku wisata," katanya.

Wendiansyah menjelaskan, semua warga yang mengelola Desa Wisata Alamendah ada Surat Keputusan (SK)nya. Jumlah tim pelaku wisatanya ada 315 orang. Yakni, ada 9 pengelola, 45 orang guide, dan 65 homestay, pelaku kesenian, peternakan, dan UMKM. "Pelaku wisata di kami, tak hanya anak mudah saja tapi yang sudah sepuh juga dilibatkan. Orang tua berumur 50 hingga 60 tahun atau ibu-ibu mengelola home stay," papar Wendinsyah yang akrab disapa Wendi.

Terkait kunjungan wisata, Wendi mengatakan, tahun ini jumlahnya agak turun. Rata-rata, jumlah kunjungan wisata perbulan ke Desa Alamendah, sebanyak 300 orang. Pada umumnya, mereka berasal dari Jabodetabek, Surabaya dan wisatawan asing dari berbagai negara. Pengelola, membuat berbagai paket kunjungan wisata dengan tarif dimulai oleh Rp 175 ribu.

"Alhamdulillah dengan adanya Desa Wisata ini sangat berdampak ke kehidupan warga disini. Karena secara ekonomi ada perputaran uang dengan adanya pembayaran. Mayoritas warga disini berprofesi sebagai petani dan sekarang wisata jadi mata pencaharian jadi ada peningkatan pendapatan," katanya.

Menurut Wendi, semua keuntungan dari desa wisata ini 80 persennya diberikan ke masyarakat dan 20 persennya untuk pengelola. Rata-rata, setiap warga bisa mendapatkan tambahan penghasilan Rp 1 juta sampai Rp 9 juta perbulan.

Selain bisa menambah penghasilan, kata dia, keberadaan Desa Wisata Alamendah ini pun bisa berdampak langsung. Terutama, akses jalan menjadi bagus baik ke lokasi wisata maupun akses ke home stay sering ada bantuan. Selain itu, banyak juga fasilitas CSR yang masuk ke desanya.

Salah satu pelatihan yang masuk ke desanya, kata dia, berasal dari PKM Unisba yang memberikan pelatihan soal desa wisata halal, pelatihan sumber daya manusia (SDM), dan kesiapan wisata halal. "Dengan adanya pelatihan, maka SDM wisata halal lebih siap, daya saing meningkat, branding dan semakin dikenal," katanya.

Wendi berharap, pelatihan ini bisa terus berkelanjutan dan melibatkan masyarakat lebih banyak. Sehingga, desa wisatanya bisa semakin dikenal. Sehingga, banyak wisatawan yang datang dan semakin banyak warga yang bisa mendapatkan pekerjaan. "Dengan adanya desa wisata, alhamdulillah bisa menyerap tenaga kerja jadi pengangguran di desa ini bisa berkurang," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement