Rabu 26 Jul 2023 14:35 WIB

Mengenal KH Muhyiddin yang Wariskan ’Darah’ NU ke Ridwan Kamil

Ridwan Kamil lahir dari silsilah atau nazab dengan KH Muhyiddin.    

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jabar Ridwan Kamil ternyata keturunan seorang ulama besar di daerah Subang. Ulama ini bernama KH Muhyidin atau yang dikenal dengan Mama Pagelaran.

Pada beberapa kesempatan, Ridwan Kamil kerap bercerita patriotisme mendiang kakeknya tersebut. Selain ulama besar, mendiang merupakan tokoh pejuang kemerdekaan RI Perjuangan KH Muhyidin pun sudah diakui, masuk ke dalam pahlawan nasional dari Kabupaten Subang.

“KH Muhyiddin seorang pahlawan yang di era kolonial membela, bertempur, melawan Belanda, kemudian di era DI juga melawan DI/TII, di era PKI juga melawan PKI. Sehingga dalam definisi kiai pejuang, beliau adalah yang nyata memberikan jasa kepada republik ini,” Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil, Rabu (26/7/2023).

Emil mengatakan, keturunan Mama Pagelaran sampai saat ini mengurus sembilan pesantren di Jawa Barat. Pesantren Pagelaran, merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Jabar.

 

"Kebetulan para keturunannya mengurusi sekarang sembilan pesantren, tentunya pesantren yang Ahlussunnah wal Jama'ah yang tentunya terdepan mewarisi nasihat wasiat selalu dalam agama Islam dan membela NKRI," kata Emil.

Sementara menurut Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad, Ridwan Kamil lahir dari silsilah atau nazab dengan KH Muhyiddin.    “Benar (Ridwan Kamil) NU,” katanya.

Meski tidak mengetahui secara pribadi, kata dia, pesantren peninggalan KH Muhyiddin mengajarkan Aswaja. Aswaja adalah aliran keagamaan yang diikuti oleh mayoritas umat Islam Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama. 

“Beliau (Ridwan Kamil) sering menyampaikan kakeknya itu panglima Hizbullah, dan memang pesantren peninggalan kakeknya mengajarkan Aswaja,” katanya.

Perlu diketahui, KH Muhyiddin lahir di Garut pada 1878. Beliau, seorang ulama yang memiliki jalan dakwah menantang penjajahan. Bahkan akibat terlalu vocal mengajak rakyat melawan kolonialisme Belanda, pada 1939, Mama Pagelaran dipenjarakan pemerintahan Belanda.

Setelah proklamasi kemerdekaan, KH Muhyiddin membentuk pasukan Hizbullah Pagelaran yang terdiri dari santri, alumni santri, jamaah pengajian, dan masyarakat Subang. Pasukan Hizbullah pun ikut terlibat dalam penyergapan konvoi tentara NICA di Ciater bersama BKR kala itu.

Bentuk perjuangan KH Muhyidin lainnya adalah ketika tentara Nederlands Indie Civil Administration (NICA) datang ke tanah air pada 1946, yang berniat merebut kembali NKRI. Dirinya memimpin langsung pertempuran melawan pasukan NICA di Jawa Barat, khususnya di daerah Ciater, Isola, dan Cijawura.

Selain itu, KH Muhyidin pun merupakan pendiri Pondok Pesantren Pagelaran, Cisalak. Namun semua kisah tersebut bermula dari Kabupaten Sumedang. 

Pada tahun 1900-an, Bupati Sumedang dikala itu Pangeran Wiriakusumah, merasa kalau warga mukmin Sumedang amat membutuhkan edukasi pakar agama. Lantas KH Muhyiddin didatangkan, lalu pada tahun 1910 dirinya ditempatkan di daerah Cimalaka, selanjutnya mendirikan pesantren Cimalaka.

Sepuluh tahun berlalu, dia alih ke sesuatu tempat terasing di Cimeuhmal, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Di tempat itu dia mendirikan pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Pagelaran.

Melansir dari laman Pondok Pesantren Pagelaran, sesudah revolusi kebebasan, situasi wilayah amat tidak nyaman sebab merajalelanya kendala kawanan. Banyak pengikut serta teman seperjuangan K. H. Muhyiddin yang berpulang jadi korban kebengisan kawanan.

Alhasil pada tahun 1950 diputuskan untuk mengungsi, kembali ke Sumedang. Dia bermukim di wilayah Kalangan. Sepanjang bermukim disitu aktivitas pengajian senantiasa berjalan, serta setelah itu dia mendirikan pondok pesantren.

Pada tahun 1962 atas permohonan tokoh- tokoh warga Dusun Gardusayang dan pejabat tentara durasi itu, dia beralih ke Dusun Gardusayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang. Tokoh- tokoh warga serta pihak tentara durasi itu memohon kehadiran dia buat merehabilitasi psikologis warga yang cacat dampak kawanan berandal keamanan.

Di tempat tersebut pun dia mendirikan pondok pesantren pasirnaan. Hingga pada akhirnya, tahun 1973, mendiang berpulang ke Rahmatullah pada umur 97 tahun serta dimakamkan di Cimeuhmal. Putra- putra dia memanggil pesantren Pagelaran di Cimeuhmal jadi Pondok Pesantren Pagelaran I. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement