Kamis 07 Sep 2023 14:58 WIB

Soal Harga Gabah di Tingkat Petani, HKTI Cirebon: Tinggi Sekali

HKTI Cirebon menyebut ada banyak biaya selama masa tanam di musim kemarau.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Gabah hasil panen petani.
Foto: ANTARA/Arif Firmansyah
(ILUSTRASI) Gabah hasil panen petani.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Harga gabah di tingkat petani wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Jabar), masih tinggi. Disebut ada sejumlah faktor yang membuat tingginya harga gabah hasil panen petani ini.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon Tasrip Abu Bakar mengatakan, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani saat ini berkisar Rp 6.500-7.000 per kilogram. Sedangkan harga gabah kering giling (GKG) sekitar Rp 7.500-8.000 per kilogram. “Harga ini tinggi sekali,” ujar Tasrip kepada Republika, Kamis (7/9/2023).

Baca Juga

Harga gabah di tingkat petani Kabupaten Cirebon itu di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Di mana HPP GKP di tingkat petani Rp 5.000 per kilogram dan di tingkat penggilingan Rp 5.100 per kilogram. Adapun HPP GKG di penggilingan Rp 6.200 per kilogram dan di gudang Bulog Rp 6.300 per kilogram.

Harga gabah di Kabupaten Cirebon saat ini disebut HKTI merupakan yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Menurut Tasrip, tingginya harga gabah ini imbas dari fenomena iklim El Nino. Ia menilai, El Nino memicu kekhawatiran musim tanam selanjutnya akan mundur, sehingga bisa berdampak terhadap stok pangan.

 

Selain itu, menurut Tasrip, biaya produksi yang dikeluarkan petani selama musim tanam gadu (kemarau) 2023 juga terbilang tinggi. Termasuk kebutuhan pompa dan pipa untuk pengairan lahan pertanian mengantisipasi kekeringan, serta mengatasi maraknya serangan hama tikus. 

Tasrip mengakui, melalui tata gilir air yang ditetapkan pemerintah daerah, dampak kekeringan memang bisa diminimalkan. Namun, petani harus menyedot air dari sumber yang terbilang jauh, sehingga harus memasang pipa. Kondisi itu disebut menambah biaya yang mesti dikeluarkan petani. “Jadi, petani tidak mau jual gabahnya dengan harga murah,” kata dia.

Meski demikian, menurut Tasrip, pembeli gabah petani ini tidak hanya dari wilayah Cirebon dan sekitarnya. Ia menyebut banyak pula pembeli gabah dari luar Jabar, seperti dari wilayah Jawa Tengah.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement