Rabu 13 Sep 2023 17:06 WIB

Kolam Retensi Baru di Bandung Diresmikan, Bisa Tampung 716 Meter Kubik Air

Selain solusi banjir, kolam retensi jadi tempat cadangan air mengantisipasi kemarau.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Irfan Fitrat
Suasana kolam retensi di kawasan Kompleks Dian Permai, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/9/2023).
Foto: Edi Yusuf/Republika
Suasana kolam retensi di kawasan Kompleks Dian Permai, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat, kembali menghadirkan kolam retensi. Kali ini diresmikan kolam retensi di wilayah RW 12 Kompleks Dian Permai, Kecamatan Babakan Ciparay.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung Didi Ruswandi menjelaskan, pembuatan kolam retensi Dian Permai itu dilakukan secara swakelola dengan alat berat dari dinasnya. Pembuatan kolam retensi dengan anggaran Rp 175 juta itu dikerjakan selama dua bulan.

Baca Juga

Luas keseluruhan areanya disebut mencapai 1.767 meter persegi. “Lahan 179 meter perseginya digunakan untuk kolam. Daya tampungnya bisa mencapai 716 meter kubik. Di sekitarnya kami tanami 75 pohon pelindung,” ujar Didi, saat meresmikan kolam retensi Dian Permai, Rabu (13/9/2023).

Menurut Didi, lokasi kolam retensi itu dataran rendah, sehingga dinilai cocok sebagai salah satu solusi mengurangi potensi banjir di sekitar kawasan tersebut. Bukan hanya di RW 12, tapi juga di kawasan RW 09. “Di sana (RW 09)  memang dampaknya dari banjir di RW 12. Jadi, kalau di RW 12 bisa dikurangi, maka dampak banjir di RW 09 itu otomatis berkurang juga,” kata dia.

 

photo
Ikan ditebarkan saat peresmian kolam retensi Dian Permai, Rabu (13/9/2023). Area kolam retensi ini juga menjadi ruang publik yang bisa dimanfaatkan warga. - (Edi Yusuf/Republika)

 

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Bandung Eric M Atthauriq mengatakan, pada 2023 ada tiga kolam retensi yang dibangun. Dua lainnya disebut di wilayah Bandung Inten Indah, Kelurahan Derwati, Kecamatan Rancasari, dan di Margahayu, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buahbatu. 

“Momen musim kemarau saat ini tepat untuk bangun kolam retensi. Jangan sampai dibangun saat banjir melanda,” kata Eric.

Selain sebagai solusi banjir, menurut Eric, kolam retensi ini juga berfungsi sebagai tempat konservasi air dan cadangan air. Dengan begitu, dapat menjadi bagian dalam upaya mengantisipasi dampak musim kemarau. Terlebih ketika ada fenomena iklim El Nino seperti pada musim kemarau ini. 

“Dengan ini kita sudah siap membuat kolam retensi, sehingga pada saat bencana datang sudah bisa dicegah terlebih dahulu,” kata dia.

Selain kolam retensi, Eric mengatakan, ada berbagai upaya lainnya yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terkait sumber daya air.  “Kota Bandung sudah memiliki beberapa infrastruktur penangkap air tanah, antara lain lebih dari 20 sumur resapan dalam, 647 sumur resapan dangkal, dan lebih dari 3.700 drumpori,” ujar Eric.

Melebihi target

Ketua Komisi C DPRD Kota Bandung Yudi Cahyadi mengapresiasi upaya Pemkot Bandung membuat kolam retensi. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018-2023, ditargetkan pembuatan tujuh kolam retensi.

“Tapi, realnya justru sudah ada sepuluh kolam retensi di Kota Bandung. Kami dari DPRD Kota Bandung memberikan apresiasi kepada Pemkot Bandung yang sudah mencapai target optimal, bahkan melebihi dari kolam retensi ini. Mohon bisa memelihara yang sudah dibangun, sehingga kebermanfaatannya bisa lebih optimal,” kata Yudi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement