Kamis 23 Feb 2023 14:18 WIB

Pelaku Gay Dominasi Penyebab HIV di Kota Bogor

Namun, penyebab kasus HIV terbanyak merupakan perilaku hubungan seksual yang tidak am

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Agus Yulianto
Seorang wanita mengenakan bendera kebanggaan LGBT di rambutnya. (Ilustrasi)
Foto: AP/Matthias Schrader
Seorang wanita mengenakan bendera kebanggaan LGBT di rambutnya. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mencatat ada 408 kasus HIV positif pada 2022 di Kota Bogor. Kasus HIV positif terbanyak berasal dari faktor risiko pasien Tuberculosis (TB) dan laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki (LSL).

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bogor, Bai Kusnadi, memaparkan, 408 kasus HIV positif terdiri atas 307 kasus positif dari kelompok sasaran resiko tinggi atau populasi kunci, dan 101 kasus positif dari kasus non populasi kunci.

Baca Juga

“Kasus HIV positif terbanyak dari faktor risiko pasien TB dan LSL. Dari 408 kasus HIV Positif, 145 kasus dari kelompok Pasien TB dan 130 kasus dari kelompok LSL,” kata Bai, Kamis (23/2/2023).

Lebih lanjut, Bai mengakui, penyebab kasus HIV terbanyak merupakan perilaku hubungan seksual yang tidak aman. Faktor risiko penularan HIV sebagian besar karena perilaku hubungan seksual, bisa karena perilaku hubungan seksual lain jenis (heteroseksual), maupun hubungan seksual sejenis (homoseksual).

 

Pada 2022, Bai memaparkan, pasien positif HIV terbanyak merupakan laki-laki dengan 330 kasus, sedangkan pasien perempuan ada 78 kasus. Sementara itu, cara penularan HIV yakni melalui hubungan seksual, melalui kontaminasi darah baik dari menerima darah, jarum suntik bekas, tato, serta dari ibu positif HIV ke bayinya.

“Lesbian Gay Biseksual dan Transegender (LGBT) adalah orientasi seksual, bukan perilaku seksual. Artinya yang menjadi resiko penularan adalah perilaku seksual,” tegas Bai.

Di samping itu, sambung Bai, terlibat ada peningkatan penemuan kasus HIV di Kota Bogor. Pada 2020, ditemukan 364 kasus HIV, kemudian pada 2021 ditemukan 333 kasus, dan pada 2022 ada 408 kasus.

Meski demikian, menurut Bai, penemuan kasus HIV di Kota Bogor belum mencapai target. Dimana estimasi penemuan kasus positif HIV di Kota Bogor sampai dengan 2030 ialah sebanyak 10.871 kasus.

“Sampai dengan tahun 2022, penemuan kasus HIV mencapai 6.640 kasus, sehingga masih ada 4.231 kasus lagi yang harus ditemukan sampai dengan tahun 2030. Jadi target penemuan kasus 529 kasus setahun,” ujar Bai.

Dia menambahkan, Dinkes Kota Bogor memiliki langkah preventif sebagai pencegahan HIV, yaitu ABCDE. Langkah-langkah tersebut berupa, Abstinesia atau tidak melakukan hubungan seksual, Be Faithful atau saling setia dengan pasangannya, Condom atau berhubungan seksual menggunakan kondom, Drug No atau tidak menggunakan narkoba suntik, dan Edukasi atau memberikan edukasi kepada masyarakat.

Dinkes Kota Bogor juga melaksanakan promosi kesehatan kepada masyarakat, bahkan menyediakan layanan HIV yang berkualitas. “Kami pun berkoordinasi lintas sektor dan program, serta berkoordinasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA),” ucapnya.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement