Senin 12 Feb 2024 20:44 WIB

Tujuh Kecamatan di Indramayu Terendam Banjir Akibat Sungai Cimanuk Meluap

Banjir luapan sungai Cimanuk sudah menjadi langganan

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Arie Lukihardianti
Sawah baru tanam di Blok Suketbaju, Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu terendam banjir, Ahad (4/2/2024).
Foto: Dok. Republika
Sawah baru tanam di Blok Suketbaju, Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu terendam banjir, Ahad (4/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Tujuh kecamatan di Kabupaten Indramayu, terendam banjir, Senin (12/2/2024). Banjir tersebut disebabkan meluapnya sungai Cimanuk akibat mendapat kiriman air dari wilayah hulu sungai tersebut. Kondisi banjir itu salah satunya terjadi di Desa Pekandangan Jaya, Kecamatan Indramayu. 

Di desa tersebut, ada puluhan rumah warga yang terendam, termasuk sejumlah makam. Di desa tersebut, ketinggian air bervariasi antara 30 centimeter sampai satu meter. Salah seorang warga Desa Pekandangan Jaya, Karniti, mengatakan, air banjir mulai datang pagi ini sekitar pukul 07.00 WIB.

Baca Juga

‘’Ini banjir dari sungai (Cimanuk). Kalau hujan mah air gak naik (tidak banjir),’’ ujar Karniti.

Karniti mengatakan, banjir luapan sungai Cimanuk sudah menjadi langganan. Jika air kiriman dari hulu debitnya tinggi, maka tempat tinggalnya akan kebanjiran. ‘’Ini parah banjirnya, paling parah bisa sepaha,’’ kata Karniti.

 

Sementara itu, Bupati Indramayu, Nina Agustina, menjelaskan, debit air sungai Cimanuk telah naik sejak Ahad (11/2/2024) malam. ‘’Ini dari tadi malam,’’ kata Nina, saat meninjau langsung pintu air sungai Cimanuk, di Kelurahan Bojongsari, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Senin (12/2/2024).

Nina menyebutkan, ada tujuh kecamatan yang terendam banjir luapan sungai Cimanuk. Di antaranya, Kecamatan Sindang, Jatibarang, Bangodua, Indramayu, Kertasmaya dan Sukagumiwang.

Nina mengungkapkan, banjir yang melanda wilayahnya itu merupakan banjir kiriman dari wilayah hulu sungai Cimanuk. Dia mengatakan, hal itu merupakan risiko bagi Kabupaten Indramayu yang berada di dataran rendah dan kondisi geografis yang datar. ‘’Kita serba salah ya, Indramayu kan datar, rendah, jadi ada kiriman. Kayak (air kiriman) dari Bogor ke Jakarta,’’ kata Nina.

Selain tingginya debit air dari hulu, Nina mengakui, salah satu faktor penyebab terjadinya banjir juga akibat banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai. Dia pun menyebut sampah itu merupakan sampah kiriman, meski adapula warganya yang buang sampah sembarangan.

Untuk mengatasi banjir saat ini, Pemkab Indramayu akan menurunkan eskavator guna mengangkut sampah yang menghambat aliran sungai Cimanuk. Sedangkan untuk jangka panjang, akan diupayakan penanganan lebih lanjut. ‘’Kita akan meninggikan ini (jembatan). Tahun lalu sudah diajukan, Insya Allah tahun ini dikerjakan. Yang pasti sore ini kita panggil beko untuk ngeruk, biar airnya lancer dulu,’’ tukas Nina. 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement