Ahad 26 May 2024 19:49 WIB

Macan Tutul dan Macan Kumbang Terekam CCTV Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Saat ini ada 24 ekor macan tutul dan macan kumbang tinggal di Gunung Gede Pangrango.

Wisatawan  melintasi Situ Gunung Suspension Bridge di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Wisatawan melintasi Situ Gunung Suspension Bridge di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

REPUBLIKA.CO.ID, CIANJUR -- Seekor macan tutul dan seekor macan kumbang tertangkap kamera pemantau (CCTV) tengah berjalan beriringan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tepatnya di kawasan Gunung Gede Pangrango. Merespons ini, pendaki dilarang membuang sisa makanan agar hewan dilindungi tidak mendekati jalur pendakian.

Kepala Balai Besar TNGGP Cianjur Sapto Aji, di Cianjur, Ahad (26/5/2024) mengatakan, meskipun keberadaan macan itu jauh dari jalur pendakian, tapi berbagai upaya antisipasi tetap dilakukan. Langkah diambil agar hewan yang dilindungi itu tidak sampai terganggu dan berubah pola hidup di alamnya.

Baca Juga

"CCTV yang terpasang sangat jauh dari jalur pendakian, tapi kami tetap melarang pendaki menyisakan makanan atau sampah yang dapat menarik perhatian hewan yang hidup di habitat aslinya," kata Sapto.

Dia menjelaskan, hasil rekaman kamera pengintai terlihat seekor macan tutul berjalan di tengah hutan. Namun selang beberapa saat, menyusul macan tutul berwarna hitam di belakangnya sambil mendekati kamera yang terpasang.

"Macan berwarna hitam merupakan spesies macan tutul. Namun pigmen kulit menjadikannya berwarna hitam atau kalau masyarakat menyebutnya macan kumbang. Kami belum mengetahui apakah kedua macan tutul merupakan pasangan jantan dan betina atau induk dan anak," katanya.

Dia mencatat saat ini ada 24 ekor macan tutul dan macan kumbang tinggal di kawasan Gunung Gede Pangrango. Namun, untuk memastikan tahun ini akan ada survei jumlah macan tutul di Pulau Jawa termasuk di kawasan TNGGP.

Selama ini, tutur dia, perkembangbiakan macan tutul di Gunung Gede Pangrango terjadi secara alami, di mana habitatnya dijaga petugas."Belasan petugas melakukan pengawasan dan pengamanan habitat hewan langka dan dilindungi itu," katanya.

Dia menegaskan keberadaan macan tutul itu sangat jauh dari jalur pendakian, bahkan secara naluri satwa liar menghindari manusia. Namun pihaknya tetap meminta pendaki tidak meninggalkan sampah sisa makanan karena dapat mengubah perilaku hewan meski hidup dan tinggal di habitatnya.

"Pendaki jangan menyisakan atau memberikan makanan saat menemukan hewan di taman nasional karena nanti mereka ada di sekitar jalur pendakian," katanya. 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement