Kamis 23 Nov 2023 14:38 WIB

Kasus Bayi Meninggal, DPRD Tasikmalaya Sidak Klinik dan Tunggu Investigasi

Ibu bayi mengeluhkan pelayanan yang diberikan pihak klinik setelah melahirkan.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Irfan Fitrat
Suasana klinik di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dikeluhkan oleh salah satu keluarga pasien terkait kasus bayi meninggal dunia.
Foto: Republika/Bayu Adji P
Suasana klinik di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dikeluhkan oleh salah satu keluarga pasien terkait kasus bayi meninggal dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA — Perwakilan DPRD Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke klinik yang dilaporkan terkait kasus bayi meninggal. DPRD memantau penanganan kasus itu.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Murjani, mengatakan, sidak itu dilakukan bersama jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya pada Rabu (22/11/2023). Saat sidak, kata dia, pihaknya mendengarkan penjelasan dari manajemen klinik terkait penanganan bayi yang baru dilahirkan di sana. “Kami banyak berdiskusi dan mendengarkan keterangan langsung dari pemiliknya terkait apa yang terjadi,” kata dia, Kamis (23/11/2023).

Baca Juga

Menurut Murjani, pihaknya hanya mendengarkan kronologi penanganan bayi di klinik tersebut, yang dikeluhkan salah satu pasien. Untuk penanganan kasusnya lebih lanjut, kata dia, akan dilakukan dinkes. “Itu nanti akan diinvestigasi oleh Dinkes Kota Tasikmalaya yang hari ini sudah membentuk majelis ad hoc. Nanti kita tunggu hasil dari sana, supaya semua clear,” ujar dia.

Penjelasan ibu bayi

Sebelumnya, pelayanan salah satu klinik di wilayah Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, dikeluhkan keluarga pasien Nisa Armila (23 tahun). Nisa menjalani persalinan di klinik tersebut pada Senin (13/11/2023) malam. Ia mengaku melakukan persalinan secara normal. Namun, berat bayi yang dilahirkannya hanya sekitar 1,7 kilogram.

Nisa mengeluhkan pelayanan yang diberikan oleh klinik. “Bayi katanya mau dicek sejam sekali (setelah dilahirkan), tapi tidak ada,” kata dia, Rabu (22/11/2023).

Menurut Nisa, anak pertamanya itu dimasukkan dalam inkubator. Namun, kata dia, pada Selasa (14/11/2023) pagi bayinya sudah diperbolehkan pulang oleh pihak klinik.

“Jadi, di inkubator hanya empat jam, padahal bayi beratnya kurang, hanya 1,7 kilogram. Keluarga khawatir karena berat kurang. Kenapa tidak dirujuk ke rumah sakit? Paling enggak di inkubator beberapa hari, tapi ini disuruh pulang,” ujar Nisa.

Nisa mengatakan, pihak klinik juga tidak memberikan berkas apa pun. Termasuk kuitansi pembayaran biaya persalinan sebesar Rp 1 juta. “Surat kelahiran, keterangan bayi sehat, kuitansi pembayaran, tidak ada. Pulang hanya bawa si dede (bayi) saja,” kata dia.

Saat di rumah, menurut Nisa, napas bayinya seperti sesak dan lemas. Pihak keluarga disebut menelepon klinik untuk meminta saran penanganan, tapi tidak ada yang menjawab. “Selasa malam, bayi tidak bergerak. Kami ke sana (klinik), tutup. Padahal kan penting dan darurat. Klinik juga tulisannya 24 jam,” kata dia.

Nisa mengatakan, beberapa hari setelah bayinya meninggal dan keluarganya menyampaikan keluhkan di klinik, perwakilan klinik datang ke rumahnya untuk meminta maaf. Pihak klinik disebut mengakui kelalaian klinik dan bidan.

Ihwal kabar bayinya dijadikan konten, Nisa mengaku tak terlalu fokus terhadap persoalan tersebut. Namun, lebih ke pelayanan yang diberikan pihak klinik. “Sebenarnya bukan masalah foto yang dijadikan konten, tapi pelayanan yang kurang atau buruk. Bukan masalah foto. Memang foto itu diambil tanpa izin. Namun, kami lebih fokus masalah pelayanan,” kata dia.

Keluarga Nisa berharap Dines Kota Tasikmalaya dan Polres Tasikmalaya Kota dapat melakukan pengusutan terkait kasus itu hingga tuntas.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement